Blossom – The Back of That Person’s Hand

Fan terlihat kesal duduk sendirian di bangku taman yang ada di pinggiran sungai. Dari dandanannya sudah terlihat jelas bahwa dia akan jalan-jalan dengan seseorang yang spesial. Dan benar saja, rupanya dia sedang menunggu seseorang yang mengajaknya pergi. Tapi dia sudah menunggu hampir satu jam dan orang yang ditunggunya itu tidak muncul-muncul. Fanpun mulai melihat ke kanan dan kiri mencari-cari orang yang ditunggunya barangkali dia lewat. Agak beberapa lama celingak-celinguk tanpa hasil, Fan dengan emosi menghentak-hentakkan kakinya kuat sehingga membuat orang-orang di sekitar memandanginya. Karena malu dipandangi aneh, Fanpun beranjak dari bangku itu dengan menunduk agar wajahnya tertutupi rambut panjangnya yang diurai.

“IIHHH!!! Kemana, sih, dia?!!” gumam Fan kesal sambil menarik rambutnya menutupi setengah wajah bawahnya.

Karena sudah jalan agak jauh dari tempatnya tadi, Fanpun mulai melepaskan rambut yang ditariknya untuk menutupi wajahnya namun dia terus berjalan dengan emosinya yang sudah di kerongkongan dan menundukkan kepalanya sehingga dia tidak menyadari bahwa ada orang di depannya yang berjalan berlawanan arah mendekat. Orang itupun tengah berbincang dengan teman di sampingnya sehingga dia juga tidak memperhatikan jalan di depannya. Sebenarnya mereka tidak tepat saling berhadapan, sih.

Saat mereka semakin mendekat, jarak yang terlau dekatpun membuat punggung tangan Fan dan orang tersebut bersentuhan. Tidak lama, namun tidak juga singkat. Fan dapat merasakan tulang tangan orang tersebut menekan punggung tangannya. Punggung tangan yang lebar dan hangat.

Menyadari sentuhan tersebut, mereka berduapun saling menoleh memandang, tapi angin tiba-tiba datang dari arah orang tersebut dan mendorong rambut panjang Fan ke depan hingga menutupi wajahnya dan hanya menyisakan sedikit celah. Dari celah itu Fan dapat melihat wajah pemilik punggung tangan itu yang ternyata adalah seorang pria. Fan dapat melihat wajah pria tersebut dengan jelas. Wajahnya terlihat tenang dan somehow misterius.

Entah kenapa seketika jantung Fan berdegub kencang tak terkendali ketika mata mereka bertemu pandang meskipun penglihatan Fan tidak terlalu jelas lagi karena tiba-tiba angin membuat rambutnya menghalangi matanya. Pria itu mencoba untuk melihat wajah Fan namun hanya bisa melihat mata Fan yang agak tertutupi rambutnya.

Meskipun sama-sama penasaran, mereka tidak menghentikan langkah kaki ataupun mengurangi kecepatan langkah mereka. Meskipun mereka berjalan dengan lambat tapi tetap saja dalam beberapa waktu mereka sudah agak berjauhan.

Pria itu lalu memalingkan pandangannya pada temannya yang sudah berada di depannya. Fan yang awalnya berdebar-debar karena emosi tiba-tiba berubah berdebar-debar karena sesuatu. Sesuatu itu karena sentuhan punggung tangan atau karena mata si pria tadi? Karena jantungnya mulai tak terkendali dan perutnya ser-seran seperti akan naik panggung megah, Fan mulai berjalan terburu-buru dengan menekan dadanya agar jantungnya tenang meskipun itu sama sekali tidak membantu menstabilkan detak jantungnya tapi setidaknya Fan sudah berusaha.

Sesampainya di sebuah cafe yang ada di pinggiran sungai, Fan terus saja memegangi tangannya yang tersentuh oleh pria itu. Diapun teringat akan pria tampan yang ekspressinya biasa-biasa saja tapi mengingatnya saja bisa membuat Fan tersenyum girang sendiri. Perasaan macam apa yang dirasakan Fan sekarang, ya? Dia bahkan sangat bingung kenapa dia tersenyum girang dan seolah-olah tidak dapat menahan dan menyembunyikan rasa bahagianya.

Seperti biasa, Fan selalu memikirkan hal yang tidak penting jika sedang senang. Dia bahkan memikirkan jika seandainya kejadian tadi adalah sebuah adegan dalam drama, jenis musik apa yang akan menjadi latarnya? Lagunya tentang apa? Judulnya apa? Lagunya bahagia, ceria, atau galau? Seharusnya pada kejadian tadi ada daun-daun yang berguguran untuk lebih mendramatisi dan membuat momen semakin romantis sampai tidak akan terlupakan. Sungguh perempuan yang penuh drama -_-

Saking serunya dengan imajinasinya, Fan tidak sadar bahwa dia sudah di depan counter pemesanan selama beberapa lama sampai pelayannya agak bingung karena Fan hanya berdiam diri.

“Pesanannya, mbak?” tanya si pelayan karena lama menunggu pesanan Fan yang tak kunjung ia terima. Fan kaget.

“Oh!! Latte dan waffle satu”

“Satu latte dan satu waffle. Empat puluh delapan ribu tiga ratus” Fan mulai sadar dari dunia imajinasinya, terima kasih kepada mbak pelayan ini “Uangnya lima puluh ribu, ya. Mau menyumbangkan yang dua ribu tujuh ratusnya?” tanya si pelayan tersenyum

“Ha?! Nggak, mbak. Nggak” jawab Fan spontan saat mendengar kata ‘menyumbangkan’ itu. Dia benar-benar tidak berniat untuk menyumbang bulan ini karena dia telah menghabiskan uang bulanannya untuk hal-hal yang tidak penting. Itu karena dia tidak memiliki self control. Si mbak pelayanpun ekspresinya agak bagaimana begitu setelah mendengar jawaban Fan yang dengan nada agak tinggi.

Setelah membayar, Fan tiba-tiba bingung kenapa dia malah ke cafe yang harga makanan dan minumannya mahal-mahal. Padahal, kan, dia mau menghemat -_- facepalmpun tak terelakkan.

Alah, Fan bukanlah tipe yang terlalu memikirkan sesuatu berlarut-larut. Kalau sudah terjadi, ya, mau bagaimana lagi. Mau minta uangnya kembali mana bisa, la wong minumannya sudah jadi.

Sungguh sore hari yang menyedihkan. Atau… membahagiakan? Tidak jadi jalan-jalan tapi bisa berpapasan dengan orang yang membuat jantungnya berdebar-debar dan mengokupasi fikirannya selama beberapa waktu. Ah—terlalu banyak berfikir membuat perut Fan keroncongan. Tapi sebelum makan dia masih sempat-sempatnya memoto menunya dan mengunggahnya ke twitter. Facepalm ajalah buat si Fan.

***

Di rumah, Fan terus-menerus memikirkan pria itu dan setiap kali dia memikirkannya perutnya selalu ser-seran diikuti dengan detak jantung yang berdegub seperti mengejek. Tak jarang dia senyum-senyum sendiri lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Entah malu pada siapa juga dia tidak tahu. Karena terus-menerus terfikirkan tentang pria itu, diapun memutuskan untuk ke sungai tempat mereka berpapasan.

***

Bip bip bip bip bip bip

Alarm Fan yang sengaja ia setting pagi-pagi buta membuat Nana teman sekosannya yang berada di ranjang bawah terjaga meskipun tidak sampai bangun dari tidurnya, sedangkan Fan yang berada berdekatan dengan alarmnya sendiri malah tidak terbangun hingga membangkitkan amarah Nana.

Alarm~” ujar Nana dengan nada masih mengantuknya tapi Fan belum terbangun dari tidur lelapnya sampai Nanapun berteriak karena alarm Fan bising sekali “ALARM!!!!!!!!!!” teriak Nana dari ranjang bawah dengan mata terbelalak dan emosi membara

“Ha?!!” sahut Fan setengah sadar karena kaget mendengar teriakan Nana yang menggema. Nanapun langsung bangkit dari posisi tidurnya dengan mata bulat besar dan hidung yang kembang-kempis seperti banteng beringas. Lalu Nana naik ke atas mengambil alarm Fan yang masih berbunyi dan memukul-mukulkan alarm itu ke tubuh Fan yang diselubungi selimut.

“AAAAAA!!!!!” teriaknya emosi

“Apa? Ha?” Fan langsung tersadar karena serangan membabi-buta Nana

Alarmmu” jawab Nana dengan nada seperti ingin menangis. Roh Fan yang telah bergentayangan semalamanpun seketika kembali ke raganya karena Nana. Saat menatap Nana, Fan agak terkejut karena wajah Nana sangat kusut, matanya merah, rambutnya bak hutan hujan tropis, dan nafasnyapun beraroma surga. Sebenarnya Fan ingin tertawa, tapi dia menahannya dengan memalingkan wajahnya dan bibirnya agak membentuk tawa yang ditahan-tahan. Diapun langsung berfikir apakah dia sekarang dalam kondisi yang sama seperti Nana.

Dengan lesunya Fan turun ke ranjang bawah milik Nana. Bukannya langsung bergegas mandi atau melakukan sesuatu, Fan malah ikut tidur dengan Nana. Dipeluknyalah Nana dari belakang seperti memeluk guling erat-erat lalu tertidur lelap lagi.

“Aaah!!! Sempiiiiiit!!!!” protes Nana dengan mata terpejam dan posisi yang sama. Tanpa sadar, Fan melepas pelukannya kemudian mundur dan berguling sedikit ke pinggir, lalu…..

Bruuuuuuuuk

Mendengar suara seperti benda besar yang terjatuh, Nanapun kaget dan terbangun seketika. Iapun mendapati Fan terjatuh dengan posisi tak lazim. Kepala dan tangannya jatuh di lantai, tapi kakinya tersangkut di tangga ranjang. Sebenarnya bukan tersangkut, sih, Fan hanya mencoba untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh tapi jadinya malah seperti hewan kurban.

“Beeeeh! Speechless, wak, aku” kata Nana dengan ekspresi tak percaya

“Tolooooong” ujar Fan agak merintih sakit

“Sumpah! Sesuatu kali dirimu ini!!!!” Nanapun mengulurkan tangannya dan menarik Fan ke atas ranjang. “Sumpah!! Resek kali dirimu!! Sumpaaah!!! Demi Neptunus!!! Demi Mr. Crab dan restorannyaaaaaa!! AAAAAA!!!!” Fan langsung melompat ke bawah dan duduk seperti orang Jepang sambil meminta maaf pada Nana seolah-olah Nana adalah sang ratu.

“Maaf, kak”

“Aku mau tidur!! Jangan ganggu lagi!!!”

“Iya”

“Jangan deketin aku dalam radius 1 meter!!”

“Tapi kamarnya, kan , Cuma 3 kali 3 meter” sahut Fan dengan ekspresi rata

“Kalau ko adikku, udah tinggal nama, ko!!!” lalu Nana menarik selimutnya dan tidur

“Nggak jadi adikmupun aku udah tinggal sejarah”

Sudah jam enam. Kuliahnya dimulai jam sepuluh, masih ada banyak waktu sebelum kelasnya dimulai. Masih pagi saja dia sudah terbayang-bayang pria kemarin. Sampai-sampai dia membayangkan pria itu menjawab “iya” ketika dia bertanya “siapa tahu kita takdir, ya, kan?” akibatnya dia mulai senyum-senyum girang sendiri lagi. Another face palm buat si Fan, deh…

Setelah selesai dengan urusannya, Fan mulai dibingungkan dengan pakaian apa yang akan ia kenakan agar membuat pria kemarin terkesan saat bertemu dengannya, dia bahkan bingung akan menggunakan alas kaki apa. Tapi satu hal yang pasti, yaitu hari ini dia memutuskan untuk mengikat rambutnya agar tidak mengganggu penglihatannya dan pria itu.

Lama memilih-milih, akhirnya Fan memutuskan untuk menggunakan dress pendek bermotif bunga-bunga kecil dan wedges. Ikat rambut terindah yang hanya ia gunakan setiap malam satu suropun dia kenakan. Sebenarnya ia ingin menggunakan tas bahu kecilnya, tapi hari ini buku yang dibawa tebal sekali, jadi Fan menggunakan ranselnya. Fan berencana jika bertemu dengan pria itu lagi, dia akan menyapanya.

“KAK, AKU PERGI DULU, YA!” Teriak Fan mengganggu Nana

“PERGI SANA!!!!” Balas Nana dengan melempar bantalnya. Untungnya Fan sudah menutup pintu duluan.

***

Hari ini tetap saja ramai orang yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Fan berharap pria kemarin akan datang dan ia bisa menyapanya. Dengan seksama Fan memandangi para pengunjung yang ada di sekitarnya untuk mencari pria itu meskipun dia agak lupa wajahnya.

“Mungkin aku hanya bisa tahu kalau itu dia jika aku dan dia saling berdekatan” ujar Fan dalam hati sambil mengerutkan bibirnya.

Fan lalu melirik ke kanan dan melihat postur tinggi dengan celana jeans dan kaos hitam dengan gambar sayap seluas punggung kaosnya. Sosok itu terlihat sedang berdiri sendirian dengan menggenggam cup kopi dan meminumnya sedikit demi sedikit. Entah kenapa Fan merasa bahwa sosok itu adalah pria kemarin yang sedang ia cari dan iapun mencoba mendekatinya.

Semakin dekat jarak Fan dengan sosok itu, semakin berdebar dan berkeringatlah Fan dan membuat tujuan utamanya semakin memudar karena Fan semakin tidak bisa berfikir dengan jelas. Untuk agak mengurangi tekanan yang ia rasakan sekarang, Fan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya keras. Namun saat jantungnya berdebar sangat kencang hingga memompa darahnya kencang, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mereka hanya berjarak kurang dari satu meter saja.

Ada sesosok perempuan yang tampak mendekati pria itu dengan berlari dan sepertinya pria yang akan didekati Fan mengenali gadis itu. Pria itupun menghadap ke kanan, ke arah perempuan yang sedang berlari hingga Fan dapat melihat setengah wajah pria itu yang memang benar pria yang kemarin. Melihat kejadian itu, seketika suara langkah Fan yang menggunakan wedges terhenti. Fikiran Fan mendadak blank dan seolah-olah mengganggu keseimbangan tubuhnya. Fan bingung antara mau melanjutkan langkahnya mendekati pria yang sedang berdampingan dengan perempuan lain atau membalik arah dan menganggap seolah-olah apa yang ia lihat tidak benar. Fan terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pria itu dan dia tidak kefikiran soal status pria yang ia cintai itu.

Mata Fan mulai memandang kemana-kemana secara acak dan kepalanya juga menoleh ke kanan, kiri, atas, dan bawah. Tak sepatah katapun melintas dalam fikirannya yang dapat menjelaskan apa yang sedang orang dua itu lakukan atau apa hubungan mereka.

DRRRTT DRRRT

Getaran handphone milik Fan mengeluarkan suara yang keras walaupun diletakkan di dalam ranselnya lalu disusul dengan nada dering yang agak keras juga. Fanpun mulai tersadar setelah agak beberapa lama mendengar nada deringnya. Nada dering Fan memecah ketenangan sekitar dan membuat orang-orang sekitar memandangi Fan, bahkan pria itu juga ikut melihat ke arah Fan tapi Fan tidak tahu karena dia membalikkan badannya untuk mengambil handphonenya lalu mengangkat panggilan untuknya.

“Kuliah? Iya, aku kuliah. Eh!!! Iya lupa!!” jawab Fan

“Wah… gila lu, ya!! Aku kirain bangun pagi-pagi buat ngampus. Buruaaaaaaan!! Udah jam berapa ini??!!” ujar Nana

Ternyata Nana menelpon Fan karena kelas mereka dimulai jam sepuluh dan sekarang sudah jam sepuluh lewat sepuluh. Tidak terasa Fan sudah berada di tempat ini selama kurang lebih dua setengah jam hanya untuk menemui pria kemarin dan menyapanya. Tapi saat pria itu sudah di hadapannya, Fan malah terdiam galau.

Panggilan dari Nana barusan membuat Fan jadi tambah bingung antara menyapa pria itu dulu yang sedang berdua dengan seorang perempuan atau langsung ke halte yang jaraknya lumayan membuatnya naik betis, apalagi dia sekarang menggunakan wedges 12 cm.

Fan akhirnya memutuskan untuk menyapanya meskipun sekarang hatinya agak tidak jelas. Namun saat Fan membalik tubuhnya ke arah pria tadi, ternyata dia sudah tidak ada di sana. Dengan wajah kecewa dan perasaan yang campur aduk seperti es campur, Fan berlari sekuat tenaga menuju halte yang bisnya lewat setiap 15 menit. Artinya jika dalam 5 menit Fan tidak berada di halte, dia harus menunggu sampai jam setengah sebelas dan tidak menutup kemungkinan dosennya tidak akan membiarkannya ikut pelajaran karena jarak dari sungai ini dengan kampusnya memakan waktu perjalanan 45 – 1 jam belum termasuk waktu berjalan dari halte ke kampusnya dan kelasnya.

Fan terus berlari sampai menabraki para pejalan kaki sampai diteriaki, Fanpun meminta maaf sambil berlari. Ketika menoleh ke kiri, terlihatlah pria cinta pertamanya yang sedang bersepeda santai, tapi perempuan tadi sudah tidak bersamanya lagi, atau mungkin dia sedang menunggu di suatu tempat? Ah, Fan tidak perduli lagi. Di fikirannya sekarang hanya ada pria itu sampai membuatnya senyum-senyum sendiri. Memang yang namanya cinta itu buta. Saking butanya sampai tidak bisa melihat sekitar.

BRUUUUKK

“LIHAT LIHAT, WOY!!! KAMPRET!!!” Lagi-lagi Fan menabrak pejalan kaki, dan yang satu ini teriakannya menggelegar dan membuat Fan menjadi pusat perhatian lagi.

“Maaf, pak!” teriak Fan sambil terus berlari

Rambut kuncir kuda Fan mengayun ke kanan dan ke kiri seperti penari hula, eh… sepertinya lebih mendekati ekor kuda dan kepalanya adalah pantat kudanya.

Pria yang Fan sukai itu lagi-lagi memandang kearah Fan karena teriakan keras korban kedua Fan, dan lagi-lagi Fan tidak melihatnya karena terus memandangi jam di handphonenya.

“Aw!! Sepuluh tiga belas!!!!” ujar Fan panik.

Saking tak terkendalinya lari Fan karena dia menggunakan wedges yang tinggi dan jalannya tidak rata, akhirnya Fan menabrak pejalan kaki lagi. Tapi kali ini Fan ikut terjatuh bersama korbannya. Kaki Fan terkilir dan membuatnya meringis kesakitan. Ini karena dia nggak fokus pada jalan dan hanya pada pria itu saja. Serasa di dunia ini hanya ada dirinya dan pria itu. Nggak nyadar apa kalau yang lainnya ada?

Fan berdiri perlahan sambil meringis kesakitan dan ingin meminta maaf pada korbannya. Ketika sudah berdiri lalu membungkut untuk membantu korbannya berdiri, tiba-tiba Fan melotot kaget lalu mengedip-ngedipkan matanya. Terkejut, bingung, dan kesakitan jadi sepaket ketika korban yang ia tabrak mendongak kepadanya. Antara ingat dan tidak, Fan membantu perempuan yang terjatuh karenanya untuk bangun.

“Maaf, saya tidak sengaja. Saya sedang terburu-buru. Maafkan saya” berkali-kali permintaan maaf terlontar dari bibir Fan.

Orang-orang mulai mengerumuni Fan dan gadis yang ditabraknya. Gadis itupun sudah duduk dan kelihatannya agak lecet dan memar. Dia yang sedang menggunakan celana pendek memperlihatkan lecetnya dan meniup-niup lukanya. Fan jadi semakin merasa bersalah dan bingung harus bagaimana. Melihat gadis itu dikerubungi orang-orang dan dia terlihat seperti orang yang benar-benar jahat sekali karena hanya berdiri seperti sapi pengok.

“Kamu lagi!!! Semua ditabrakin!! Ngajak ribut, ya?!! Tiba-tiba korban Fan yang garang tadi muncul di antara kerumunan dan berteriak lagi pada Fan sambil dengan berwalang kekek.

“Maaf, pak. Saya sedang terburu-buru, makanya saya lari-lari” jelas Fan

“Saya tidak apa-apa, kok, mbak” gadis itu mengendurkan suasana tegang “Mbak katanya buru-buru. Kalau begitu cepat pergi, mbak. Saya tidak apa-apa, kok” Fan sangat berterimakasih kepada gadis itu karena pengertiannya terhadap situasi Fan. Diapun mulai berjalan ke halte dengan terpincang-pincang karena kakinya keseleo. Setelah agak beberapa jauh dari kerumunan, Fan baru ingat bahwa gadis yang ditabraknya tadi adalah orang yang bersama pria yang disukainya saat di dekat pohon. Baju, postur, dan gaya rambutnya benar-benar persis. Iapun menoleh ke kerumunan. Untuk apa? Bahkan Fan sendiri tidak tahu. Dia bingung antara khawatir pada gadis itu atau entah apa pertanyaan-pertanyaan di fikirannya yang berlari-lari kesana-kemari. Tanpa Fan sadari, pria yang disukainya itu berhenti di antara kerumunan dan turun dari sepedanya.

***

Fan terlihat kesal akan kejadian yang menimpanya hari ini. Sambil menahan sakit Fan berjalan ke halte tanpa memperdulikan waktu dan sesampainya di halte dia sama sekali tidak melihat bis lewat ataupun calon penumpang. Hah~ kelihatannya dia benar-benar terlambat.

Fan berpegangan pada salah satu tiang halte dan duduk dengan perlahan. Dia meluruskan kakinya yang pegal karena berlarian dan karena sakit terkilir. Wedgesnyapun dilepas dan diletakkan di sebelahnya.

Jari-jemarinya mulai terasa nyeri dan perih, rupanya karena ada lecet-lecet. Fan gelisah menunggu bis dan handphonenya mulai bergetar membabi-buta, menyadari itu, Fan langsung mengecek handphonenya yang rupanya dibom SMS. Mungkin tidak dibom, tapi sepertinya pending dan langsung masuk bersamaan. Membaca SMS yang dikirimkan oleh Nana bagaikan tamparan bertubi-tubi bagi Fan.

‘Woy!!! Dosennya udah dateng ini!!’

‘Buruan, woy!!!!! Hari ini ada kuis!!!’

‘Bales, kenapaaa?!!!’

Dan SMS terbaru dari Nana membuat ekspresi cloudy Fan berubah menjadi sunny.

‘Ah, mati aja, lah, ko, taik!!’

Fan mendongakkan wajahnya, memejam-eratkan matanya, dan membuka mulutnya kemudian diapun mulai tertawa.

‘Iya. Ini lagi nunggu bis’ balas Fan. Tak berapa lama setelah itu Nana membalas SMS Fan.

‘Sempet, lu, yaa!!! Naik taksi aja!! Nggak keburu, entar!!’

‘Aku lagi bokek, kak T_T’ balas Fan

‘SARAP!!! Udah, buruan cari taksi!! Entar gue yang bayar!’ Fan mendadak girang

‘Waw!! Serius, nih, Kak?’

‘Banyak bacot, lu, Katiyem!!! Buruan!!’

Sambil mesem-mesem Fan mulai mencari taksi, dan ia menemukan satu yang sedang melintas.

“TAKSIII!!!” Teriak Fan sangar dan penuh semangat api seperti Naruto yang sedang beraksi hahahaha. Dengan gesit taksi yang dipanggil Fan mengerem. Sampai ada suara CIIIIIIIITTnya, gitu. Hahaha “Universitas White Gardenia, Pak!” ujar Fan memasuki taksi.

Perasaannya yang tadi bercampur-aduk kini sudah mulai tenang. Dan semua itu berkat Nana. Terima kasih mbak yu.

Hari ini mungkin memang hari sial bagi Fan. Mungkin hari ini Fan tidak ditakdirkan untuk mendapatkan keberuntungan. Tapi… tak lama setelah taksinya berjalan, pria yang disukainyapun terlihat sedang bersepeda di pinggir jalan dengan perempuan yang tadi bersamanya juga. Awalnya Fan, sih, tidak menyadarinya karena masih sibuk SMSan dengan Nana, tapi…. tapi… pada saat dia menyisihkan poninya yang agak mengganggu mata, Fan melihat wajah pria itu!!! Ah!!! (Aku jadi girang juga, nih) Taksi yang ditumpanginya berhenti karena lampu merah dan… berhentinya itu… pas sekali!! Tepat di sebelah sepeda pria itu yang kebetulan menggunakan badan jalan.

Berkat lampu merah itu antrian panjang nan padat membuat bahkan sepedapun tidak bisa lewat. Fan… tidak mampu mengalihkan perhatiannya. Jarak yang begitu dekat antara Fan dan pria itu membuatnya dapat melihat hidung mancung dan juga kulit mulus bersih pria itu. Fan dapat melihat rantai kalung yang digunakan pria itu meskipun dimasukkan ke dalam kaosnya. Fan terus memandanginya dari atas sampai bawah, memperhatikan matanya yang sedang mencari jalan untuk dilewatinya, memperhatikan rambutnya yang terlihat lembut meskipun agak lembab karena keringat, memperhatikan jari-jemari lelakinya yang melingkar di stang sepeda, memperhatikan pergelangan tangan yang dilingkari oleh beberapa gelang tangan, memperhatikan matanya yang berkedip, dan melihatnya menghembuskan nafas panjang dari mulutnya.

Semuanya… terasa sangat dekat. Dekat sekali. Bahkan lebih dekat dari yang dia bisa bayangkan. Tapi… Fan dan pria itu terpisah oleh kaca, sehingga… seatraktif apapun Fan, pria itu tidak akan tahu ataupun menyadari keberadaannya. Kenapa? Karena kaca taksi itu terlihat gelap dari luar namun tidak dari dalam. Walaupun Fan bisa membuat pria itu menyadari keberadaannya dengan menurunkan kaca taksinya, Fan tidak berani melakukannya. Dia takut. Takut akan apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dan takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ah~~ keraguannya ini…

Dengan segera Fan mencari kamera yang selalu dibawanya dan tanpa fikir panjang, tanpa basa-basi mulai mencari sudut yang bagus dan langsung mengambil gambar pria itu secara continue. Supir taksi yang sesekali mengintip Fan mengambil gambar seperti seorang stalkerpun hanya bisa terdiam merinding melihatnya.

Entah si pria itu merasa bahwa dia sedang difoto atau dipandangi Fan, tiba-tiba saja si pria itu mengarahkan pandangannya ke Fan. Tatapan matanya tepat di mata Fan dan membuat Fan terdiam dengan ekspresi agak kaget dan ketakutan. Pria itupun semakin mendekatkan wajahnya ke kaca sampai membuat frekuensi detak jantung Fan meningkat drastis. Entah apa yang ada di fikiran Fan, bukannya membalik tubuh atau menjauh dari pintu, dia malah semakin mendekati kaca itu.

Dengan detak jantung yang terus mengencang dan wajag pria itu yang semakin dekat menghadap Fan, ah… tidak, lebih tepatnya menghadap ke arah kaca taksi, Fan mulai mengelus kaca taksi itu bagaikan sedang mengelus wajah pria itu. Jari telunjuknya mulai menari di kaca taksi itu mengekikuti lekak-lekuk pada wajah pria itu. Rasanya… seperti sedang menyentuh alisnya yang tebal menuju ke kelopak mata dan terus sampai ke ujung hidungnya secara langsung. Jari telunjuk Fanpun melompat dari ujung hidung pria itu ke ujung kanan bibirnya dan menariknya sampai ke ujung kiri bibir si pria itu seperti kuas yang sedang melukis di atas kanvas yang tembus pandang langsung ke modelnya.

TAP!!

DHEG!!

Pria itu tiba-tiba saja meletakkan telapak tangannya di kaca taksi Fan dan otomatis membuat Fan tersentak kaget. Dia tampak seolah-olah akan membuka pintu taksi itu…

“Awas tangannya!!” Teriak supir taksi Fan. Pria itu kaget dan spontan menjauhkan tangannya dari kaca taksi Fan, iapun mulai mengayuh sepedanya setelah menyadari kendaraan di depannya mulai bergerak.

Supir taksi itu sekali lagi tampak melirik Fan yang terlihat sangat lega ketika pria itu menjauhkan tangannya dari pintu taksi itu.

Dia terus saja membungkam mulutnya meskipun pria itu sudah tidak lagi berdekatan.

***

Karena pria itu sudah tidak terlihat lagi, dengan sibuk Fan mencari keberadaannya sampai si Pak supirpun menyadarinya.

“Orangnya udah mutar, mbak. Kayaknya balik lagi ke tempat tadi” ujar si supir. Fan mendadak bingung karena si supir bisa tahu apa yang ada di fikirannya. Apakah sejelas itu?

Ketika Fan membalikkan tubuhnya, dia menemukan sosok yang dicarinya, dan… dia baru sadar… kalau… ternyata pria itu… membonceng perempuan yang tadi ditabraknya.

Seketika Fan menunjukkan wajah kecewanya.

Walaupun dia kecewa, tapi… setidaknya dia sudah dapat melihat pria itu dari dekat.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s