Blossom – Part 1

PicsArt_1417766274323  Fan terlihat kesal duduk sendirian di bangku taman di pingir sungai. Dari dandanannya dia terlihat seperti akan jalan-jalan dengan seseorang. Dan benar saja, rupanya dia sedang menunggu seseorang yang mengajaknya pergi. Tapi dia sudah menunggu hampir satu jam dan orang yang ditunggunya itu tidak muncul-muncul. Fanpun mulai melihat ke kanan dan ke kiri mencari-cari orang yang dia tunggu, siapa tahu dia lewat. Agak beberapa lama celingak-celinguk tanpa hasil, Fan dengan emosinya menghentak-hentakkan kaki kuat berkali-kali sehingga membuat orang-orang di sekitar memandanginya. Karena malu dipandangi aneh Fanpun beranjak dari bangku itu dengan menunduk agar wajahnya tertutupi rambut panjangnya yang diurai.

“IIHH!!! Kemana, sih, dia?!” gumamnya kesal sambil berjalan dengan menarik rambutnya menutupi setengah wajah bawahnya.

Karena sudah jalan agak jauh dari tempatnya tadi, Fanpun mulai melepaskan rambut yang ditariknya untuk menutupi wajahnya namun dia terus berjalan dengan emosi dan menundukkan kepalanya sehingga dia tidak menyadari bahwa ada orang di depannya yang berjalan berlawanan arah mendekat. Orang itupun tengah berbincang dengan teman di sampingnya sehingga dia juga tidak memperhatikan jalan di depannya. Sebenarnya mereka tidak tepat saling berhadapan, sih. Saat mereka semakin mendekat, jarak yang terlalu dekatpun membuat punggung tangan Fan dan orang tersebut bersentuhan. Tidak lama, namun tidak juga singkat. Fan dapat merasakan tulang tangan orang tersebut menekan punggung tangannya. Punggung tangan yang lebar dan hangat. Menyadari sentuhan tersebut, mereka berduapun saling menoleh memandang, tapi angin tiba-tiba datang dari hadapan orang tersebut dan menorong rambut panjang Fan ke depan hingga menutupi wajahnya dan hanya menyisakan sedikit celah. Dari celah itu Fan dapat melihat wajah pemilik punggung tangan itu yang ternyata adalah seorang pria. Fan dapat melihat wajah pria tersebut dengan jelas. Wajahnya terlihat tenang dan somehow misterius. Entah kenapa seketika jantung Fan berdegub kencang tak terkendali ketika mata mereka bertemu meskipun penglihatan Fan tidak terlalu jelas karena tiba-tiba angin membuat rambutnya menghalangi matanya. Pria itu mencoba untuk melihat wajah Fan namun hanya bisa melihat mata Fan yang agak tertutupi rambutnya. Walaupun sama-sama penasaran, namun mereka tidak menghentikan langkah kaki mereka ataupun mengurangi kecepatan langkah mereka. Meskipun mereka berjalan dengan langkah lambat tapi tetap saja dalam beberapa waktu mereka sudah agak berjauhan.

Pria itu lalu memalingkan pandangannya ke temannya yang sadar bahwa pria itu tidak mendengar pembicaraannya dengan memanggilnya. Fan yang awalnya berdebar-debar karena emosi tiba-tiba berubah menjadi berdebar-debar karena sesuatu. Sesuatu itu karena sentuhan punggung tangan atau karena tatapan mata si pria tadi? Karena jantungnya mulai tidak terkendali dan perutnya ser-seran seperti akan naik panggung, Fan mulai berjalan terburu-buru sambil menekan dadanya agar jantungnya tenang. Walaupun itu sama sekali tidak membantu menstabilkan detak jantungnya, ya setidaknya Fan sudah berusaha, lah.

Sesampainya di sebuah cafe di pinggir sungai, Fan terus saja memegangi tangannya yang tersentuh oleh pria itu. Diapun teringat akan pria tampan yang ekspresinya biasa-biasa saja tapi mengingatnya membuat Fan tersenyum girang sendiri. Perasaan macam apa yang Fan rasakan sekarang? Dia bahkan sangat bingung kenapa dia tersenyum girang dan seolah-olah tidak dapat menahan dan menyembunyikan rasa bahagianya.

Seperti biasa, Fan selalu memikirkan hal yang tidak penting jika sedang senang. Dia bahkan memikirkan jika seandainya kejadian tadi adalah sebuah adegan dalam drama, jenis musik apa yang akan menjadi latarnya, lagunya tentang apa, judulnya apa, lagunya bahagia, ceria, atau galau, seharusnya pada kejadian tadi ada daun-daun yang berguguran untuk lebih mendramatisi dan membuat momen semakin romantis sampai tidak akan terlupakan. Sungguh perempuan yang penuh drama -_-

Saking serunya dengan imajinasinya, Fan tidak sadar bahwa dia sudah di depan konter pemesanan di cafe selama beberapa lama sampai pelayannya agak bingung.

“Ordernya, mbak?” tanya si pelayan karena lama menunggu pesanan Fan yang tak kunjung ia terima

“Oh! Latte dan waffle satu” jawab Fan kaget

“Satu latte dan satu waffle. Empat puluh delapan ribu tiga ratus” Fan mulai sadar dari dunia imajinasinya, terimakasih kepada mbak pelayan ini “Uangnya lima puluh ribu, ya. Mau menyumbangkan yang dua ribu tujuh ratusnya?” tanya si pelayan tersenyum

“Ha?! Nggak, mbak. Nggak” jawab Fan spontan. Dia benar-benar tidak berniat untuk menyumbang bulan ini karena dia telah menghabiskan uang bulanannya untuk hal-hal tidak penting. Itu karena dia tidak memiliki self-control. Setelah dia membayar, dia tiba-tiba bingung kenapa dia malah ke cafe yang harga makanan dan minumannya mahal-mahal. Padahal kan dia mau menghemat -_- facepalmpun tak terelakkan.

Alah, Fan bukanlah tipe yang terlalu terfikir akan sesuatu. Kalau sudah terjadi ya mau bagaimana lagi. Mau minta uang kembali mana bisa, la wong minumannya sudah jadi. Sungguh sore hari yang menyedihkan. Atau membahagiakan? Tidak jadi jalan-jalan tapi bisa berpapasan dengan orang yang membuat jantungnya berdebar-debar dan mengokupasi fikirannya selama beberapa waktu. Terlalu banyak berfikir membuat perut Fanpun keroncongan, tapi sebelum makan dia masih sempat-sempatnya memoto menunya dan menggunggahnya ke twitter. Face palm aja lah buat si Fan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s