Cinta itu, ya…..

image

Terkadang kita memutuskan untuk melupakan dan menghilangkan rasa suka kita pada seseorang itu. Tidak mudah memang, tapi kita terus dan tetap mencoba sampai kita lelah dengan hal yang tak berwujud dan usaha yang tak berhasil itu.

Padahal jarak orang itu tidak dekat dengan kita, bahkan kita sudah tidak lagi menjalin komunikasi dengannya selama berbulan-bulan, tapi di media sosial kita terus menguntitnya, selalu ingin tahu apa yang ia lakukan, selalu mencoba untuk berkomunikasi dengannya meskipun sepertinya dia tidak perduli. Berkali-kali berkomentar di status Facebooknya, di Instagramnya, di Twitternya, tapi dia tidak pernah membalas. Saat orang lain berkomentar, ia akan langsung membalasnya. Marah? Tentu saja marah, bahkan sangat marah sampai rasanya ingin meluapkan rasa amarah yang sudah di ubun-ubun dan ujung bibir saat kita bertemu dengannya. Tapi kapan? Kapan bisa bertemu? Meskipun berada di satu pulau, di satu kota, tapi dia jauh di sana bersama teman-temannya, begitulah yang ku rasa.

Sebenarnya ingin merasa menyesal karena telah mengungkapkan perasaan kita padanya, tapi penyesalan itu memudar setiap kali teringat akan waktu-waktu bersamanya yang telah berlalu, jauh berlalu, bahkan mungkin dia sudah melupakannya. Tapi kita tidak takut ataupun sedih jika ia melupakan kenangan-kenangan itu, karena dengan kita saja yang mengingatnya itu sudah cukup, lebih dari cukup. I can’t deny that I want him so much that it gave me butterflies every night.

Semakin kita mencoba melupakannya, semakin rindu dan rindulah kita padanya sampai akhirnya kita mulai menguntit media sosialnya lagi, dan ketika kita menemui fotonya bersama teman-temannya especially girl tersenyum atau berbahagia, rasa iri, cemburu, amarah, semua bercampur jadi satu. Tapi mau diluapkan ke siapa? Toh kita tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.

Cinta itu indah, cinta itu sakit, cinta itu manis, cinta itu pahit, cinta itu putih, cinta itu hitam, cinta itu bahagia, cinta itu lara, tapi semua balance. Jadi, ya, walaupun sakit mencintainya, tapi aku terus mengejarnya meskipun dia tidak tahu.

Meskipun orang hanya melihat miris, sakit, dan kerasnya cinta kita, tapi yang merasakan indahnya hanya kita, kan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s