The Bad (Image) Guy

“Woy! Woy!” Teriak Andri yang kedua kaki dan tangannya dipegang erat oleh Supri dan Adi. Mereka berdua bersiap-siap mengayun tubuh Andri untuk dilempar ke laut.
“Lempar aja!!! HAHAHA” Anisa mengompori sambil mengambili foto Andri yang terlihat seperti hewan buruan yang tertangkap.
“HPku! HPku!” Andri meronta
“Nis, ambil HPnya buruan!” ujar Adi. Anisa berlari mendekat dan meraba-raba saku celana Andri kemudian mengambil HP Andri
“LEMPAR!!” Adi memberi aba-aba. Merekapun melempar Andri yang pakaian dan sepatunya belum sempat dilepas.
Anak-anak kelas sebelas industri yang lain terlihat masih bersiap-siap di bawah pohon-pohon yang rindang. Yuna dan Bima terlihat sangat repot karena bawaannya banyak. Sepertinya mereka berdua jadi bulan-bulanan anak-anak lain.
“Bim, tolongin! Karpetnya melorot!” ujar Yuna meminta tolong
“Tunggu tunggu. Aduh! Nggak bisa, nih! Entar jatuh semua!” Bima menyangga galon yang akan jatuh dengan pahanya. Melihat Bima yang lebih kerepotan dibanding dirinya, Yunapun menurunkan barang-barang bawaannya dan menolong Bima mengangkat galon. Dibawalah galon itu dengan memikul seperti om-om tukang galon dan membuat Bima kehabisan kata-kata. Setelah meletakkan galon di tempat yang dipilih anak-anak kelasnaya, Yuna kembali mengambil barang-barang yang ia tinggal dan rupanya sebagian sudah dibawa Bima. Yuna agak tersenyum senang.
Deni menggelar dua tikar dan sebuah karpet yang dibawa Yuna tadi di bawah pohon yang rindang dibantu oleh Bima. Anak-anak perempuan yang lain terlihat sibuk mengumpulkan dan menata konsumsi di meja yang ada di pantai itu, sementara anak laki-laki yang lain sudah sibuk mengganti pakaian, bahkan ada yang bertelanjang dada. Untungnya hari ini pantainya tidak terlalu ramai, jadi serasa menyewa pantai bagian tengah untuk mereka sendiri.
Setelah tikar dan karpet selesai digelar, tas-taspun diletakkan di atasnya oleh Yuna, kemudian diapun duduk memandangi teman-temannya yang terlihat sangat senang berlibur di pantai setelah selesai praktek kerja lapangan selama 6 bulan di sebuah industri.

RING RING

“Hello” Yuna mengangkat panggilan di Hpnya
“Wait! Don’t hang up” Ujar Leo
“I won’t. What’s up?” tanya Yuna
“Where are you?”
“Pasir Putih beach. why?”
“Ok”

Tuuuut tuuuut

Tiba-tiba Leo memutuskan panggilan. Yuna memandangi Hpnya sinis.
“Gaje” gumamnya
Sebenarnya Yuna tidak suka pergi ke pantai karena panasnya minta ampun. Tapi daripada dia bertengkar dengan para gadis-gadis lain di kelasnya yang heboh, lebih baik dia nurut saja.
Waktu berjalan sangat lambat sekali bagi Yuna karena dia tidak menikmatinya. Sama saja seperti liburan semester lalu di pantai dimana dia hanya menolak ajakan teman-temannya untuk berenang dengan gerakan tangan dan dibubuhi senyuman. Dia lebih  memilih menjaga lapak bertemankan jajanan dan rujak buah jatahnya.

RIIING RIIIING

“Helah! Dia lagi” gumam Yuna sebal mengetahui bahwa panggilan di Hpnya adalah dari Leo “Hello”
“I’m here” ujar Leo dengan nada riang
“Here? Where? Don’t tell me?!!” Yuna langsung berdiri dan mencari-cari Leo seperti seekor Meerkat Manor
“On your right!” ujar Leo. Yuna menghadap ke kanan “Go straight!” Yunapun berjalan perlahan sambil clingak-clinguk “Stop right there! Take right. Ok. Stop right there! Turn right. Take the stairs” Yuna menaiki tangga sebuah rumah istirahat yang yang terbuat dari papan berjenis rumah panggung. “Okay. Take a few step to the right. Ok. Stop right there! Sit down. Facing the sea, not the wall” Yunapun duduk di ujung papan menunggu Leo sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.
“Where are y…”
“Hoy!!!” tiba-tiba Leo muncul dari kolong bawah rumah panggung itu dan menggenggam kedua kaki Yuna. Yuna yang terkejutpun awalnya akan berlari, tapi karena kakinya ditahan Leo, Yunapun merayap-rayap di lantai. Leo yang melihat kejadian itu tidak dapat menahan tawanya dan tertawa terbahak-bahak. Menyadari hal itu, Yuna marah bukan main. Tapi belum sempat dia memukul Leo, Leopun menyuruhnya untuk mendekat dengan memberi isyarat menggunakan tangan kirinya. Yunapun mendekat dengan posisi berada d atas rumah panggung. Dengan tiba-tiba Leo mencium bibir Yuna. Hanya menempelkannya saja, sih, tapi Yuna kaget dan malu setengah mati karena ini tempat umum. Yuna bisa merasakan bibir Leo yang merenggang karena tersenyum menahan tawa. Dan kali ini Yuna benar-benar marah. Iapun menendang perut Leo sekuat tenaga dengan kaki kanannya lalu ia berdiri. Leo terjatuh dan merintih kesakitan sambil tertawa kecil. Tanpa Yuna sadari, ternyata ada si Bima dan Reno yang menyaksikan kejadian tadi. Sebenarnya mereka berdua hanya lewat sehabis dari toilet. Mereka pura-pura tidak melihat dan berjalan agak menjauh setelah Leo ditendang Yuna.
“It hurts a lot. Haha” kata Leo menaiki tangga sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit
“Go away!” usir Yuna yang tengah menyembunyikan  wajahnya dari Leo dengan menghadap ke dinding.
“I’m kidding. I’m sorry” Leo memegang pundak Yuna “I’m sorry” Leo lalu memutar tubuh Yuna dengan paksa dan mendapati wajah Yuna memerah “Are you blushing? Haha”
“Shut up!” Yuna menundukkan wajahnya malu sampai-sampai dia kembali menghadapkan wajahnya ke dinding dan memeluk dinding itu erat-erat. Leopun lagi-lagi hanya tertawa.
“Why did you cut your hair?” tanya Yuna perlahan menghadap ke Leo
“Why? Mmm… I don’t know. I just feel like cutting it” jawab Leo memegangi rambutnya
“Oh… it looks good on you” ujar Yuna menahan malu karena terpukau
“Really? Haha”
Yuna kembali ke tempat berteduh kelasnya dengan membawa Leo tapi dia berjalan mendahului Leo karena masih agak marah. Sementara itu Bima dan Rino berpura-pura tidak tahu apa-apa dan hanya memandangi orang dua itu yang semakin mendekat.
“They’re my classmates” ujar Yuna memperkenalkan. Teman-temannya tersenyum
“Hi” sapa Leo
“Kenalin, dia Leo. Temanku” Yuna memperkenalkan Leo pada anak-anak kelasnya yang sedanng makan rujak. Semuanya memandangi Leo seksama seperti sedang memandang hewan purbakala. Pandangan teman-teman Yuna itu bukannya tidak beralasan. Leo itu orang bule yang jarang-jarang kelihatan kasat mata. Tapi yang membuat mata tercengang adalah anting di telinganya yang banyak sekali. Dia bahkan menggunakan 5 anting di telinga kiri dan 4 anting di telinga kanannya. Dia terlihat seperti anak berandal, namun wajahnya mengatakan sebaliknya. Itulah yang difikirkan teman-teman Yuna.
Bahkan saat dia hanya menggunakan kaos oblong biru donker berlengan panjang dengan celana selutut dan sandal jepit saja dia terlihat menawan.
Karena bicaranya saja sudah bahasa Inggris plus aura dari Leo yang agak berbeda dengan mereka, teman-teman Yunapun tak melakukan tanya-jawab seperti saat dikenalkan pada orang baru.
“This is indeed a beach” ujar Leo menghirup udara pantai dalam-dalam. Yuna lalu duduk di karpet. “You should enjoy it”
“Go ahead. Just let me be” Yuna menolak dengan halus “You’re alone?”
“Yeah. Do you even need my answer” jawab Leo memejamkan mata. “Ah. Could you tell your friends that I’m joining”
“Ok. Do you bring any change of clothes or food?” tanya Yuna bermain pasir dengan sebuah ranting kecil.
“No. I only took my car along”
“Are you kidding me!” Yuna mendongak ke arah Leo mamasang muka sebal
“Hahaha”
Leo melepas kaos yang ia pakai dengan menghadap ke pantai. Tiba-tiba anak kelas memasang muka terkejut. Mereka kaget melihat punggung Leo yang dipenuhi tato. Mulai dari tato tulisan sampai gambar-gambar. Ada yang sampai menganga dan menghembuskan nafasnya berat. Ada juga pengunjung perempuan yang terkesima melihat tubuh Leo yang six pack dan melihat tato tribal di lengan kirinya. Sepertinya hanya Yuna saja yang tidak terkejut. Tapi ada satu tato tulisan yang membuatnya mengembangkan senyum kecilnya.
“New tattoo?” tanya Yuna
“Yeah. It’s your name” jawab Leo tersenyum lalu memberikan kaosnya pada Yuna. Tato vertikal di pinggang kiri itu membuat Yuna mendadak senang dan menunduk menyembunyikan senyumannya. “Help me take them off” pinta Leo sambil melepas anting di telinga kanannya yang berwana silver. Yuna berdiri dan mulai melepaskan anting Leo satu per satu. Anisa si fotografer tidak mau ketinggalan momen dan memoto mereka berdua. Leo mengeluarkan Hpnya dari kantong celana dan memberikannya pada Yuna lagi setelah itu dia berjalan mendekati air dan mulai berenang dengan seksinya. Spot yang yang awalnya sepi malah menjadi ramai karena si bule Leo.
Leo tampak menikmati air laut yang dingin di bawah teriknya matahari, tapi Yuna tidak bisa melihat ekspresi Leo karena matanya rabun. Yuna meletakkan barang-barang Leo di dalam tas ranselnya dan Bimapun mendekatinya.
“Kece gitu cowokmu” puji Bima duduk di dekat Yuna
“Haha—dia bukan cowokku” bantah Yuna melempar tasnya
“Alah~ nggak usah bohong kau!” Bima memukul tangan Yuna. Yuna mendekatkan kedua alis matanya. “Keren kali, wak, gayanya. Nggak sabar pingin cepat lulus aku” ujar Bima yang mulai berjalan ke laut. Diapun berpapasan dengan Leo yang mentas dengan tubuh basahnya yang seksi. Leo melempar senyum karena tahu Bima adalah teman Yuna. Bima memandangi badan Leo sambil jalan mundur “Beh!! Kolornyapun merek Calvin Klein, wak!” gumam Bima saat melihat celana dalam Leo yang karetnya agak terlihat “Itu kolornya apa boxernya?”
Leo duduk menghadap Yuna dengan mata yang memerah “Ah! Help me take them off!” Leo membuka mata lebar dengan tangannya
“Take what?” Yuna bingung karena dia tidak melihat benda aneh di mata Leo.
“My contact Lens” Yuna mengerutkan keningnya takut. Dia takut ngobok-ngobok mata Leo. Diapun mencari cermin atau sebagainya. Diambilnyalah I-phone milik Leo dan menghadapkan layarnya ke Leo. Setelah melepas kontak lensanya, Leo mengajak Yuna untuk berenang tapi Yuna menolak mentah-mentah. Ya jelas dia menolak, kan dia tidak bisa berenang. Tapi Leo tidak mau menyerah dan terus merayu meskipun Yuna hanya membalasnya dengan wajah sebal. Lelah berkata-kata, Leopun menarik tangan Yuna dan membuat Yuna berubah seperti kucing. Memberatkan tubuh dan menarik tangannya agar dilepaskan.
“I’ll teach you. Come on!” Leo menarik Yuna yang terduduk sekuat tenaga
“AAAA!!! Tolooooooong!!” Yuna meronta pada temannya. Tapi teman-temannya tidak perduli dan malah tertawa. Mereka membiarkan Yuna dicemplungkan ke laut karena setiap ke pantai dia selalu menjadi penonton saja. “Toloooong!” Leo manarik Yuna ke kedalaman, Yuna memasang wajah takut yang luar biasa dan sempat akan berbalik ke pinggiran tapi Leo menariknya semakin dan semakin dalam hingga Yuna memanik.
“Stop! Stop! I can’t feel the ground!!” Yuna melingkarkan tangannya di leher Leo erat. Leo menenangkan sambil bergerak mundur menuju ke kedalaman. “NOOOOO!!!!!” Yuna berteriak tepat di telinga Leo dan membuat Leo emosi.
“I told you it’s Ok! Why are you screaming?” bentak Leo melepaskan lingkaran tangan Yuna. Yuna terkejut.
“Don’t! No no no. I’m sorry I’m sorry I’m sorry” Yuna memohon seperti rapper karena dia benar-benar takut tenggelam. Leopun kembali meraih tubuh Yuna dan membiarkannnya memeluk dirinya.
Dari kejauhan, teman-teman Yuna sudah sibuk bergosip-gosip melihat Yuna dan Leo. Sepertinya akan ada pembully-an setelah acara rekreasi ini. Mendengar gosipan itu, Bima malah mengompori dengan menceritakan kejadian ciuman Yuna dan Leo tadi. Tapi entah kenapa ceritanya jadi lebih lebay.

Tak terasa sudah mulai sore. Perut anak-anak sudah mulai keroncongan. Ayam yang sudah dibumbuipun mulai dibakar dan aromanya benar-benar menggoda iman serta membuyarkan konsentrasi, bahkan Leo yang sedang melatih Yuna berenangpun tergoda dan langsung keluar dari air meninggalkan Yuna di pinggiran yang dangkal. Saat yang lain terfokus pada makanan, Bima malah terfokus pada Yuna yang baru keluar dari air. Baju lengan panjang Yunapun berubah menjadi pakaian yang hanya lengket di tubuh dan membentuk lekukannya. Ikat rambut karetnyapun tiba-tiba terputus karena tak kuat menahan beban rambut basahnya. Terurailah rambut Yuna. Pemandangan pertama Bima melihat Yuna dengan rambut tergerai karena biasanya selalu diikat. Entah kenapa Bima melihat Yuna berjalan dengan penuh pesona dan seksi.
“Is there anything I can eat?” tanya Leo dengan senyuman pada Yuna
“You can have my share. I’m still full” Yuna menawarkan sambil memegangi poni panjangnya
Setelah selesai makan, mereka mulai mandi dan bersiap-siap untuk pulang.
“Woy! Foto bersama dulu!” teriak Anisa
“Suruh temannya Yuna motoin, biar semua masuk” Angga menyarankan. Anisapun berlari ke Yuna meminta izin. Dan mereka mulai berpose.
Leo menghampiri Yuna yang belum mengganti pakaiannya yang basah kuyup.
“You should change your clothes!” ujar Leo
“I didn’t bring any. It’s okay this way” jawab Yuna. Leopun merasa bersalah karena dialah yang membuat Yuna berenang tanpa tahu Yuna tidak membawa baju ganti.
“Use mine” Leo menawarkan kaosnya pada Yuna namun ditolak karen Yuna tahu Leo juga tidak membawa baju ganti. Lama mereka saling memberi dan menolak, akhirnya Leo melempar kaosnya entah kemana karena tidak mau ambil pusing.
“What are you doing, you crazy guy?!” teriak Yuna tertawa
“Use it or I’ll throw it!” ujar Leo melipat tangan di depan dadanya
“You already throw it, dummy!” Yuna akhirnya menggunakan kaos Leo dan Leo bertelanjang dada. Leo juga menawarkan tumpangan pada Yuna dan diiyakan mengingat minibus sewaan kelasnya sebenarnya tidak muat tapi dipaksakan saja seperti ikan sarden di dalam kaleng.
Leo dan Yuna membantu membawa barang-barang ke minibus dan membiarkan mereka pergi duluan.
Di dalam mobil Leo, Leo dan Yuna memasang kembali anting-anting Leo. Sebenarnya tidak dibantu juga bisa karena ada kaca, tapi akan memakan waktu.
“Come here” ujar Yuna lalu membantu memasangkan anting Leo yang jumlahnya lebih banyak dibanding antingnya. Sesekali Leo mengeluh kesakitan karena Yuna tidak memasangkan dengan benar. Dan setiap kali Leo berteriak kesakitan, Yuna selalu terkejut lalu memukul Leo sekeras-kerasnya kemudian mereka berdua akan tertawa.
“Will you be mine?” tanya Leo saat akan dipasangi anting terakhirnya
“I’m already yours” ujar Yuna santai
“Then why won’t you marry me?!” Leo bertanya dengan nada agak marah
“Can’t you wait until my graduation!” Yuna kesal dan memasang anting Leo dengan kasar dan membuat Leo kesakitan
“Aww… aww… okay okay”

***
Ini awal mula si Yuna bisa kenal dengan si bule Leo.
Pada suatu malam, Yuna dalam perjalanan pulang setelah berjalan-jalan di suatu mall bersama teman-temannya. Karena dia sendiri yang arah jalan pulangnya berbeda, ya akhirnya dia pulang sendirian.
Waktu itu kurang lebih jam 10 malam. Yuna naik angkot yang penuh sesak. Tapi tidak beberapa jauh, tiba-tiba angkotnya mengeluarkan asap hitam di dalam dan membuat penumpang panik dan turun.
Saat berdiri di pinggir jalan menunggu angkot lain, tiba-tiba ada taksi kenalannya yang lewat dan berhenti.
“Yun, mau kemana?” tanya oomnya si supir taksi
“Mau pulang, om. Ehehe” jawab Yuna cengengesan
“Ayo! Bareng oom aja. Udah malam ini” kata oomnya menawarkan
“Oh, oke, om. Makasih, ya. Jadi ngerepotin” Yuna membuka pintu belakang dan terkejut mendapati seorang pria yang sedang tertidur di ujung dan berbau alkohol yang sangat menyengat.
“Nganter dia dulu tapi, ya” izin oomnya
“Oh…oke, om” jawab Yuna ragu-ragu.
Memang lagi apes si Yuna. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba taksi oomnya mogok juga. Oomnyapun dengan berat hati menyuruh Yuna naik angkot dan dia mengangguk setuju karena kalau dia menunggu mobil oomnya diperbaiki, dia bisa kemalaman. Oomnyapun  membangunkan pria yang tertidur itu dan menjelaskan situasinya tapi Yuna tidak dapat mendengarnya. Pria yang rupanya tengah mabuk berat itu tidak berkata apa-apa dan hanya memberi uang 100.000 pada oom Yuna meskipun oomnya sudah bilang tidak perlu membayar.
Yuna memandangi pria tadi yang berjalan terhuyung-huyung khawatir dia akan terjatuh. Dan apa yang dia khawatirkanpun terjadi.
“Eh! Eh!” Yuna berlari ke pria itu lalu membantunya bangun sambil menahan-nahan nafas karena bau alkohol dari pria itu menyengat sekali. Yunapun memandang wajah pria itu yang tertutup rambut gondrongnya sebentar.
“Bule apa, ya?” gumamnya “Where are you going mister?” tanya Yuna. Pria itu menunjuk sebuah hotel yang berdekatan. “Oh, ok” Yunapun membantu si bule itu berjalan ke hotel tempatnya.
Sesampainya, pegawai hotelnya pada nggak tahu kemana. Si bule itupun melangkahkan kakinya ke arah lift dan Yuna mengikutinya. Yuna mengerucutkan bibirnya ketika si bule menekan tombol 5, yaitu lantai paling atas. Di dalam lift, si bule sempat terbatuk-batuk beberapa kali.
Si bule alias Leo langsung membuka pintu kamarnya dan Yunapun ikut masuk. Leo lalu berjalan ke arah kamarnya yang ada di dalam kamar hotelnya dengan berpegang pada apa yang ada di dekatnya. Dihempaskanlah tubuhnya di atas kasur dan tertidur lelaplah dia. Yuna yang merasa tugasnya sudah selesai ingin berpamitan tapi tidak jadi karena melihat Leo tertidur pulas.
Ketika memegang gagang pintu, Yuna langsung melotot kaget karena pintunya terkunci dan diapun memanik. Dia berusaha membangunkan Leo tapi karena sudah mabuk berat Leopun tak terbangun dan hanya bergerak-gerak saja.
“Aduh! Gimana ini?!” gumam Yuna panik. Yuna mencari Hpnya dan langsung menelpon ibunya, tapi rupanya pulsanya habis. Ditemukanlah telepon kamar Leo dan tanpa izin dia menelpon ibunya menggunakan telepon Leo dan terpaksa berbohong dengan mengatakan dia menginap di rumah Anisa.
Yuna yang kehilangan harapanpun tidur di sofa ruang tamu namun fikirannya melayang-layang. Ini sebenarnya hotel atau apartemen? Kok kayak apartemen padahal tulisannya hotel. Itu adalah beberapa hal yang difikirkannya.

Tak terasa pagi telah datang. Leo terbangun lebih dahulu dengan menahan rasa pusing di kepalanya. Diapun duduk di samping kasurnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali lalu keluar kamar untuk meminum sesuatu di dapur. Saat sedang berjalan ke dapur, dia menghentikan langkahnya ketika melihat ada perempuan yang tertidur di sofanya. Leo berdiri seperti patung. Dia terbingung dan memandangi Yuna sambil mengingat apa yang terjadi. Seingatnya dia tidak pernah membawa seseorang ke kamar hotelnya. Leopun mulai berfikir bahwa dia sedang berhalusinasi dan langsung ke dapur untuk mengambil obat sakit kepala.
Tak lama, Yuna terbangun dan ketika dia membuka mata, Leopun terlihat dengan jelas sedang meminum air di dapur yang berhadapan dengan sofa yang ia tiduri. Merasa tidak enak, Yuna langsung berdiri tertunduk. Leo yang awalnya mengira ia berhalusinasipun jadi terdiam dengan memegang gelas yang masih lengket di bibirnya.
“Last night. You locked the door. That’s why…” terang Yuna. Leo jadi tambah bingung. “Could you open the door? I have to go home now” pinta Yuna. Leo tanpa tanya karena masih bingungpun mencari kunci di saku celananya dan membuka pintu. “Excuse me” ujar Yuna berlari keluar sedangkan Leo hanya terdiam memegangi gagang pintu sambil melihat Yuna berlari dengan mengikat ulang rambutnya.

Keesokan harinya, Leo mendapati HP Yuna tergeletak di meja di samping telepon kamarnya. Karena Hpnya terlindungi password, Leopun hanya menyimpannnya di laci kamarnya barang kali Yuna akan datang mengambil.
Yuna baru menyadari Hpnya tidak ada saat dia akan mencari nomor telepon wali kelasnya.
“Loh?? Waduh!! Ketinggalan di sana!!” ujar Yuna terkejut. Dengan izin ibunya, Yunapun pergi ke hotel tempat Leo tinggal meskipun sudah malam.
Sesampainya, Yuna mengetuk pintu kamar Leo beberapa kali tapi tidak ada respon. Ketika dia memegang gagang pintu kamar Leo, tiba-tiba pintunya terbuka. Walau agak ragu, Yuna memasuki kamar Leo, namun kosong. Yang dia lihat hanyalah meja yang sangat kotor. Puntung rokok dimana-mana, kaleng bir berserakan, dan bungkus makanan instan. Yuna hanya bisa menganga kaget melihatnya.
Tiba-tiba pintu kamar berbungi seperti terbuka dan spontan Yuna membalik badan takut. Rupanya Leo muncul dan lagi-lagi dalam keadaan mabuk berat.

Bruuuk

Leo pingsan tepat di depan Yuna. Bukan di badan Yuna, tapi di depannya. Yuna panik karena Leo terbatuk-batuk dan merintih sambil memegangi perutnya.
“Are you okay?” tanya Yuna memegangi bahu Leo. Leo terbatuk-batuk. “What should I do?” Leo lalu mengeluarkan HP dan saku celananya dengan tangan bergetar “What?” karena saking bingungnya, Yuna malah menelepon nomornya sendiri. “Loh?!! Salah-salah” gumamnya lalu ia menelpon kontak bernama ‘Doctor’. Kontak di Hpnya hanya ada 3 nama.
Hari ini Yuna gagal mengambil Hpnya karena Hpnya sudah tidak berada di meja dekat telepon kamar Leo. Diapun berniat mengambilnya besok sepulang sekolah.

***
Leo tersadar dari pingsannya dan melihat kantong plastik tembus pandang berisi obat-obatan dan sepucuk surat.
‘I’m sorry, I’m the girl who came here the other day. I came here looking for my handphone. I will come here tomorrow afternoon. If you don’t mind, could you please stay at you room. And don’t forget to take the medicine. The doctor also said that you should drink warm water with ginger and honey’

Leo langsung membuka laci meja di dekatnya dan mengambil HP Yuna yang mati lalu menghidupkannya. Kali ini dia iseng-iseng memasukkan password berupa angka dan rupanya terbuka.
“Facebook, Twitter. Twitter!” gumamnya lalu membuka aplikasi Twitter dengan akun Yuna yang telah masuk. Diapun membaca tweet Yuna dan ada satu yang berbahasa Inggris pada tweet terbarunya
‘Really need part-time job’

***

Seperti yang ditulis Yuna di sepucuk surat tadi. Sorenya Yunapun datang dengan masih berseragam. Leopun menunggu.

Tok tok tok

Leo yang sedang bermain dengan kucingnya langsung membuka pintu karena dia yakin Yunalah yang ada di balik pintu itu. Entah kenapa dia mendadak senang. Bahkan dia juga deg-degan menunggu kedatangan Yuna.
“Ah! Good afternoon” sapa Yuna
“Good afternoon. You wanna take your handphone?” tanya Leo yang baru tahu bahwa Yuna masih pelajar
“Yes” Yuna mengangguk
“Mmm… come in” Leo mempersilahkan Yuna masuk
“Ah, thank you” Yuna duduk di sofa sementara Leo mengambil HP Yuna di kamarnya. Yuna yang pecinta kucingpun secara otomatis mengelus-elus dan bermain dengan kucing milik Leo.
“I’m sorry for troubling you” kata Leo memberikan HP kepada Yuna
“It’s Ok, sir”
“Wanna drink something?” tanya Leo
“No. Thank you. I’ll go home right away”
“Oh. Ok” Yuna berdiri memberi salam. Leopun teringat akan tweet Yuna yang dibacanya “Do you wanna work here?” Tanya Leo
“Work? I don’t… know” jawab Yuna ragu karena dia agak ngeri dengan Leo yang kelihatan berandal
“I’ll pay. You just need to clean this room. And if you can cook…”
“Sorry, sir. I’m a student. I can’t be a maid for you”
“If it’s about the time, it’s Ok to come at this hour. I’ll pay every month” Yuna yang keluarganya sedang mengalami krisis keuangan semenjak ayahnya meninggalkannya dan saudaranya baru meninggalpun sebenarnya ingin sekali bekerja di sini, tapi lokasinya jauh dari rumahnya dan bosnya agak bagaimana begitu. “How much do you want? How about 200.000 every day you come?” ujar Leo yang sangat menginginkan Yuna bekerja untuknya
“O…kay then” jawab Yuna
“Okay. Deal. But please give an approval letter from your parents”
“Okay. When will I start?”
“I’ll call your parent’s number” Yunapun memberikan nomor ibunya dan nomor rekening banknya. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya Yuna pulang.

***

Sudah beberapa bulan Yuna bekerja untuk Leo. Sebenarnya Yuna sendiri bingung atas pekerjaannya. Setiap datang ke kamar hotel Leo, Yuna hanya membereskan tempat tidur yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh cleaning service hotel, memasak saat diminta melalui sticky note di kulkas, membersihkan ruangan dari sampah minuman dan makanan, sisanya hanya bermain dengan kucing sambil menunggu jam kerjanya berakhir, yaitu jam 9 malam. Ya kadang-kadang diapun belajar dan saat dia blank dia akan segera berhenti.
Hampir setiap kali Yuna datang, Leo tidak pernah ada dan yang menyambutnya adalah kucing milik Leo. Bahkan saat Yuna pulangpun Leo belum datang. Untungnya Leo memberi kunci cadangan pada Yuna supaya dia bisa masuk.
Ketika gaji pertamanya masuk dalam tabungannya, Yuna sangat sangat terkejut karena melihat nilainya yang besar sekali. Biasanya dia hanya menabung 50.000 – 100.000 per bulan sebagai tabungan pelajar. Tapi melihat angka 6.470.000 Yunapun senang senang bingung. Besar sekali gaji yang diterimanya sebagai pembantu yang kerjaannya sangat-sangat ringan.
Sebagai ungkapan terima kasihnya pada Leo atas gaji yang diberikannya, Yuna berbelanja untuk Leo karena dia teringat akan isi kulkas Leo yang hanya berisi air dan jajanan dan terkadang makanan instan. Yuna membelikan susu, madu, sayur-sayuran, buah-buahan, vitamin, dan kue-kue.
Leo sangat senang membaca sticky note dari Yuna yang bertuliskan ‘Please take care of your health’ sembari memakan buah-buahan yang ada di kulkas. Diapun agak kaget saat pulang dalam keadaan mabuk dan membuka kulkas yang berisi banyak hal. Semenjak itu Leo sering berada di kamar menunggu Yuna datang bekerja. Merekapun mulai akrab dan Yunapun mulai tidak terlalu canggung dan takut pada Leo karena ternyata Leo adalah orang yang baik dan ramah.
“Sir, may I know where are you working at?” tanya Yuna
“I’m not working”
“Oh… Then, what are you doing outside?”
“Drink. Hehehe”
“What the hell” gumam Yuna lirih tapi Leo dapat mendengarnya dan diapun tertawa lirih
“You can call me Leo. And by the way, I think ‘sir’ is too much. I’m only 17” ujar Leo
“Really?! Ah! I’m Yuna. I’m going sixteen this year” Yunapun berfikir apa Leo benar-benar 17 tahun. Lalu kenapa dia tidak bersekolah atau setidaknya home schooling? Terus kok dia hobi mabuk-mabukan? Rambutnya, tindiknya… Yunapun memandangi rambut dan telinga Leo.
“Don’t stare too much or I might get killed” ujar Leo mengelus kucingnya.

Semakin hari mereka semakin dekat bahkan seperti teman sampai-sampai Yuna sering memarahi Leo. Suatu hari Yuna datang pagi-pagi meskipun bukan jam kerjanya untuk mengantarkan makanan favorit Yuna yang dibuatkan oleh ibunya untuk Leo. Leopun belum terbangun dan saat mendengar ketukan pintu berkali-kali diapun membuka pintu dalam keadaan setengah sadar dan bertelanjang dada. Yuna hanya cengengesan canggung melihat keadaan Leo dan cengengesannya mendadak berubah menjadi keterkejutan saat Leo membalik tubuhnya dan menampakkan punggungnya yang dipenuhi tato, bahkan lengan kiri atasnyapun ada. Tapi Yuna tidak terlalu memperdulikannya karena itu masalah pribadi.
Yuna tidak tahu latar belakang Leo yang menurutnya sangat misterius. Seorang anak laki-laki tinggal di sebuah kamar presidential yang terlihat seperti apartemen sendirian, sering mabuk-mabukan, bertato, bertindik, dan terlihat kesepian dibalik senyum tawa ramahnya. Yuna tak pernah sekalipun melihat foto orang tuanya atau bahkan foto Leo sendiri. Benda-benda yang berhubungan dengan keluarga juga sepertinya tidak ada di sini.
Suatu sore, Yuna datang untuk bekerja seperti biasa. Dia mengetuk pintu kamar Leo sebelum memasukinya dan karena tidak ada jawaban diapun membukanya menggunakan kunci cadangan.
Betapa terkejutnya Yuna melihat Leo yang sedang mabuk bersanding dengan botol-botol bir. Pandangannya kosong dan dia terlihat sangat kacau. Yuna melangkahkan kakinya dengan ekspresi menahan emosi.
“What’s happening here?” Yuna mendekati Leo dan meletakkan tasnya di sofa. Ruangan ini beraroma alkohol bercampur asap rokok yang dihasilkan oleh beberapa puntung rokok yang baranya belum mati di lantai. “What are you doing?!” tanya Yuna menaikkan nadanya dan memegang pundak Leo. Leo mendongakkan wajahnya dan terlihatlah air mata yang keluar dari mata kirinya turun membasahi pipi kirinya namun Leo hanya memasang ekspresi kosong dan membuat Yuna marah. “What happen?!!” Leo tak menghiraukan dan masuk ke kamarnya membawa sekaleng bir. Yuna memandanginya lalu melihat HP Leo yang menyala dan tergeletak di lantai. Sebuah pesan rupanya. Yunapun membacanya.
“Don’t call or mail us. I already told you. I will provide every need of yours. Isn’t the money enough?! And I already said to keep your distance from anything related to us. If you still consider me as your mother, then please do as I say”
“Mother?” gumam Yuna “Ibu Leo? Ibu Leo?!! Hah! Maksudnya apa ini?!” Yuna memasuki kamar Leo dan menampar Leo yang tengah duduk melamun menghadap ke jendela. Leopun terkejut dan tangan kirinya yang sedang memegang rokokpun tak sengaja mengayun dan rokoknya yang membara mengenai wajah Yuna karena Leo mendadak emosi. Yunapun memegangi pipinya yang terluka terkena rokok Leo. Leo sebenarnya ingin memegang lukanya namun perasaannya bingung.
“That’s your mom, right?” tanya Yuna. Leo kembali duduk dan menunduk
“Yeah”
“You’re crying for her?”
“Yeah”
“You love her?”
“Yeah”
“Does she know you’re ruined like this?”
“I don’t know”
“How long has it been?”
“Since I was a kid”
“What do you want from her?” tanya Yuna menurunkan tangannya dari pipinya lalu ikut menghadap ke jendela. Leo menoleh sedikit ke arah Yuna dan terdiam. “What is it that you’re trying to get from her?”
“I don’t know” Leo menghisap rokoknya. “You can go. I’ll pay for today” Leo beranjak ke dapur untuk mengambil beberapa kaleng bir dan duduk di sudut ruang tamu di dekat jendela dan mulai meminum birnya. Yuna menyusulnya dan menghempaskan kaleng bir yang dipegang Leo.
“I said YOU CAN GO…”
“She doesn’t even care about you! Throw her from your life!” teriak Yuna memegang kerah baju Leo. Leopun mengayunkan tangannya ingin menampar Yuna namun Yuna menahan tangannya. “Who are you angry with? Me? Yourself? Or your mother?!”
“Shut up!”
“What will you do now?!”
“What do you care?!”
“ I care! I don’t wanna lose someone in a same way” Yuna melepaskan genggamannya dari kerah dan tangan Leo. “You should rest” kata Yuna dengan nada rendah. Yuna mengambil tasnya dan tiba-tiba Leo menahan tangannya erat.
“You.. can… stay” ujar Leo. Mereka berduapun duduk bersama di sofa tanpa berkata apa-apa dan hanya menghadap ke bawah. Agak lama kemudian Leo tertidur dan kepalanya menghantuk pundak Yuna. Yunapun menidurkan tubuh Leo di sofa dan mengambil selimut di kamar Leo lalu membereskan ruangan. Sebelum pulang, Yuna mendekati Leo. Dia memandangi wajah Leo sampai terjongkok. Rambut panjang Leopun agak menutupi wajahnya karena dia tidur dengan miring. Yuna menarik rambut Leo ke belakang telinganya dan tiba-tiba tangan Leo menggenggam pergelangan tangan Yuna dan Yuna tidak berniat untuk melepasnya.
“I have to go home” ujar Yuna lembut
“It’s raining outside” Leo tak mau melepaskan tangan Yuna dan bahkan tak membuka matanya “Stay a little longer. I’ll drive you home” Yuna hanya terdiam setuju dan duduk di lantai karena kakinya sakit saat jongkok.

***

Sudah 4 bulan berlalu semenjak Yuna bekerja pada Leo. Yuna akan segera memasuki semester baru dan pada semester ini dia harus mengikuti praktek kerja lapangan dan Yuna berniat memberi tahu Leo sepulang jalan.
“Yun! Serius, nih, ko yang traktir?” tanya Anisa memastikan
“Iya. Pilih aja menunya” ujar Yuna “Mbak. Yang ini, ini, ini, sama ini tolong dibungkus, ya” pesan Yuna sambil menunjuk-nunjuk buku menu.

***

“Leo” panggil Yuna mengetuk kamar Leo. Leo membuka pintu dengan cepat dan memasang wajah ceria “What?” Yuna mengerutkan keningnya kaget
“What is that?” tanya Leo senyum-senyum melihat bawaan Yuna
“Food”
Merekapun duduk di sofa bersama kucing Leo dan memakan makanan yang dibawa Yuna. Sesekali Leo melirik Yuna sambil makan dan Yuna sudah menyadarinya dari tadi.
“What?” tanya Yuna sambil terus makan
“Do you have boyfriend?” tanya Leo
“No. I don’t date whatsoever” ketus Yuna
“Why?” Leo bertanya dengan senyuman
“If you’re comitted enough to a relationship, you shouldn’t play that kind of dating game. Just marry that person”
“I see…” Leo kagum akan jawaban Yuna yang berbeda dari orang-orang bahkan dirinya sendiri.
“Why?”
“I like you” ujar Leo menghadap ke Yuna. Yunapun kaget dan berhenti mengunyah makanan yang ada di dalam mulutunya “No. I love you” koreksi Leo. Yuna menelan makanannya bulat-bulat dan menoleh ke arah Leo.
“Are you serious?”
“Hahaha… Why so serious?!” Leo terkekeh namun seketika berubah serius “Yeah. Seriously” merekapun saling menatap selama beberapa lama sampai akhirnya Leo mengeluarkan kalimat untuk melonggarkan suasana “I’m full” Iapun ke dapur mengambil sekaleng bir meninggalkan Yuna dengan kekagetannya.
Setelah membereskan makanan dan ruangan, Yuna dan Leo kembali duduk bersanding di sofa. Leo menyadari 2 kancing atas kemeja Yuna terbuka.
“You should button up” ujar Leo memberi isyarat dengan tangannya. Yuna menunduk melihat kemejanya
“ Oh. Sorry. Thanks” Yuna membalik badan dan mengancingkan kemejanya
“What do you want?” tanya Yuna kembali ke posisi menghadap ke Leo dengan maksud bertanya apa yang Leo mau untuk penutup makan malam. Bukannya jawaban yang didapat, Leo malah mencium bibirnya. Yuna menggenggam erat lengan sofa di sampingnya dengan mata terbelalak. Semakin lama Leo semakin menekan bibir Yuna lalu iapun membuka matanya dan menjauhkan wajahnya dari Yuna yang terkejut dan kehabisan kata-kata.
“WHAT THE HELL DO YOU THINK YOU’RE DOING?!” teriak Yuna menendang Leo
“aww… aww… you’re wearing skirt! You’re wearing skirt!” ujar Leo mengingatkan Yuna yang kakinya naik ke atas sofa padahal dia menggunakan rok pendek. Mereka berduapun tertawa keras
“I gotta go back”
“I’ll drive you home”

***
Ini kali kedua Leo ke rumah Yuna yang berbentuk toko pakaian. Bedanya pertama kali Leo ke rumah Yuna saat malam hari dan tokonya sudah tutup, jadi dia tidak mampir.
“Assalamualaikum” Yuna memberi salam “Come in” Yuna mempersilahkan Leo masuk
“Waalaikumsalam” jawab adik perempuan Yuna yang ekspresinya berubah kaget melihat kakaknya pulang bersama orang bule yang rambutnya juga diikat di belakang sama seperti kakaknya dan meninggalkan poni serta memperlihatkan tindikan-tindikan di telinganya.
“Buk! Buk!” adik Yuna memanggil ibunya yang sedang tiduran menonton TV lalu menunjukkan tamu yang datang bersama Yuna kemudian mereka berdua sama-sama tercengang.
“Oy! Take off your sandal!” ujar Yuna. Leo yang tersadar menjinjit keluar dan melepaskan sandalnya.
“Sorry. Oh! Hi, I’m Leo” sapa Leo pada ibu dan adik Yuna
“Halo” balas adik Yuna tercengang. Yuna mempersilahkan Leo duduk di sofa lalu ia ke dapur membuatkan minuman. Leo hanya senyum-senyum kepada ibu dan adik Yuna karena takut berbicara jika mereka tidak bisa mengerti bahasanya. Yuna kemudian datang dengan secangkir kopi lalu duduk di bawah. Ibu dan adiknya tiba-tiba permisi keluar entah kemana.
“Next week I can’t work for you anymore. I’m doing an internship for about 6 months” ujar Yuna
“Why didn’t you tell me earlier?!” Leo kaget
“I forgot”
“The work hour?”
“8 a.m to 6 p.m”
“Then, you won’t come anymore?” tanya Leo dengan nada agak sedih
“I’ll come if I want to” jawab Yuna menggendong keponakannya yang tiba-tiba keluar.
“Really? That’s good” Leo tersenyum senang “I’ll go back, then” pamit Leo.
Padahal mesin mobilnya sudah dia hidupkan, tapi tiba-tiba Leo mematikannya dan kembali masuk ke toko.
“Yuna, you left some something in my car” ujar Leo
“Hm? What is it?” tanya Yuna bingung
“Come here” Yuna berjalan keluar lalu Leo menunjuk pintu belakang dan Yunapun membukanya kemudian mencari apa yang ditinggalnya. Tiba-tiba Leo muncul dari pintu belakang yang berlawanan dan menarik tangan Yuna. Leo agak mentup pintu yang ia pegang dan mencium bibir Yuna lagi. Yuna terkejut. Leo hanya mencium sebentar lalu ia mulai terkekeh.
“What the hell!! Hahaha” ujar Yuna ikut tertawa tertahan. Leopun pulang dengan lambaian tangan dari Yuna.

***
Dua bulan PKL, Yuna tak pernah sekalipun datang mengunjungi Leo. Namun ketika rasa rindu Leo sudah menggebu-gebu, tiba-tiba Yuna datang membawa buah-buahan, makanan, dan banyak lagi dalam beberapa kantong plastik besar.
“What is this?” tanya Yuna dengan nada tinggi sambil menunjukkan buku tabungannya lalu melempar ke arah Leo yang sedang mesem-mesem melihat kedatangan Yuna sambil duduk di sofa bersama kucingnya.
“What is this?” Leo mengambil buku tabungan Yuna
“Why do you keep transfering money?!” Yuna berjalan ke dapur dan meletak-letakkan bawaannya.
“Ah… I just wanna do it. That’s all” jawab Leo simpel “Why did you cut your hair?!” tanya Leo agak sedih saat Yuna membuka topi jaketnya
“I can’t work properly with long hair” jawab Yuna memotong-motong buah. Leo tampak tak suka namun dia tetap saja senang karena Yuna datang.
“Wanna go out?” tanya Leo
“Where?”
“Watch a movie?” Leo menawarkan. Dia mendekati Yuna dan mengambil sepotong apel yang Yuna kupas.
“Now?”
“Yeah. Wanna?” Leo menatap penuh harapan
“Ok”

***
Di mall, mereka berdua menjadi pusat perhatian meskipun pakaian mereka santai dan tidak mencolok. Yuna dengan kaos putih lengan pendek yang dimasukkan ke dalam hot pants berbahan jeans dan sendal jepit sedangkan Leo menggunakan kaos hitam lengan pendek dan celana selutut kotak-kotak lalu menggunakan sendal jepit juga. Mungkin mereka dipandangi karena mereka berdua tinggi menjulang, atau mungkin karena si Leo dengan tindikannya. Meski dipandangi, mereka berdua tidak terlalu perduli karena bagi mereka itu tidak penting.
Puas nonton, mereka berniat untuk makan tapi tiba-tiba Leo menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah restoran di mall itu.
“Hmm?”
“I don’t wanna eat here. I want you to cook for me” ujar Leo
“What do you want to eat?”
“Mmm… stir fry. And… chicken” pinta Leo
“Okay. Let’s buy some ingredients and chicken”

Dan begitulah awal cerita mereka bertemu dan mulai dekat.
***
Dua minggu lagi Yuna akan melakukan perpisahan sekolah. Anak-anak kelasnya mulai heboh soal baju kelas. Apalagi acaranya akan diselenggarakan di ballroom sebuah hotel berbintang.
Anak-anak kelasnya banyak maunya sampai-sampai mereka saling bersitegang. Yang laki-laki, sih, sudah memutuskan untuk menggunakan blazer yang seragam, tapi yang perempuan ada yang maunya menggunakan dress code, ada yang maunya menggunakan dress yang seragam, ada juga yang maunya menggunakan blazer. Karena yang perempuan tak bertemu keinginannya, akhirnya merekapun memutuskan untuk bebas menggunakan apa yang mereka mau dan membagi rata uang baju yang telah mereka kumpulkan.
“Yun, jadi kamu pakai apa?” tanya Anisa galau
“Nggak tau. Belum kefikiran”
Yunapun pulang bersama Bima dengan menaiki motor Bima karena rumah mereka searah. Di simpang dekat rumahnya, terlihat mobil Leo terparkir di depan rumahnya dan Yunapun bergegas masuk. Benar saja, rupanya Leo sedang bermain-main dengan keponakannya yang masih berusia 4 tahun.
“What are you doing here?” tanya Yuna yang sedang melepas sepatunya
“Oh. Welcome home! I just feel bored at home. Ah! Your brother and your mom are visiting someone. They said that they will stop somewhere to do some shopping, too” ujar Leo menggendong keponakan Yuna yang terus memeluknya “So, how’s the dress?” tanya Leo menahan sakit karena telinga dan rambutnya sedang dimain-mainkan keponakan Yuna.
“They said just use whatever you want”
“Wanna go shopping?”
“Hmm? Shop what?”
“Your look for the party”
“Not now. I already use up all of my money”
“That’s so unexpected” Leo terkejut
“For my family use” jelas Yuna memasang wajah sebal
“Let’s go on Sunday. I’ll pick you up at eleven” ujar Leo “No objection, please!” imbuhnya saat Yuna akan mengucapkan sesuatu.

Minggunya merekapun pergi. Yuna tidak tahu tujuannya kemana sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah butik yang berinterior elegan. Biasanya orang-orang seperti Yuna yang tak pernah menginjakkan kaki ke tempat berkelas seperti ini akan salting dan bertingkah ndeso, tapi Yuna hanya santai, bahkan imagenya saja sudah seperti orang yang berkelas.
Ada beberapa dress pilihan Leo dan pilihan Yuna yang membuat mereka berdua terduduk bingung memandanginya.
“Re-try them” kata Leo menoleh ke Yuna
“Again?” Yuna juga menoleh ke Leo “Ah! Do you want to come along?”
“Where to?”
“The farewell party”
“Should I?”
“You should. But I won’t force you to come”
“Should I pick a suit?” tanya Leo tersenyum senang
“You should. I think…” Yuna menunduk tersenyum
Merekapun mematchingkan pakaian mereka dan pilihan dress Yuna jatuh pada dress Hi-Lo hitam bermotif dan sebuah blazer panjang berwarna hitam juga. High heelpun tak ketinggalan. Yuna memilih high heel open-toed yang bermotif dan berwarna hitam juga.
“Should I try walking on it?” kata Yuna
“Try it” jawab Leo. Yunapun berjalan dengan anggunnya seperti seorang model yang sudah terbiasa berjalan di catwalk menggunakan sendal hak tinggi setinggi 12cm “You got the swag” Leo terkekeh bertepuk tangan. Yuna menarik tangan Leo dan mereka berdiri berdampingan. Penjaga tokopun menawarkan untuk memoto mereka berdua.
“Makasih, mbak” Yuna mengambil HP Leo yang digunakan untuk memoto
“We look good together” Leo tersenyum melihat hasil foto lalu memandang Yuna
“Yeah” Yuna memandangi foto di layar HP Leo

***
Hari perpisahan datang. Acara dimulai pukul sebelas siang sampai empat sore. Yuna dan ibunya bersiap-siap. Yuna, sih, santai saja karena Leo akan datang menjemput, tapi ibunya tidak tahu dan heboh sendiri. Apalagi baju ibunya tidak ada yang cocok.
“Kenapa, sih, buk?” tanya Yuna yang baru selesai mandi
“Udah jam berapa ini?! Buruan!!”
“Baru jam 9, buk” Yunapun masuk ke kamarnya lalu keluar dengan menggunakan dress dan high heel yang memukau ibunya.
“Cantiknyaa…”
“Leo bentar lagi datang” kata Yuna. Tak lama, Leopun datang dengan membawa tas jinjing berisi pakaian
“Your request” ujar Leo memberikan tas yang dibawanya kepada Yuna
“You look way too good” puji Yuna melihat Leo yang tampak menawan dengan setelan jas hitamnya. Leo terkekeh “Pakai ini, buk” Yuna lalu membantu memakaikan kebaya yang dibawa Leo di kamar.
“Punya siapa, ini?” tanya ibu Yuna
“Punyamu. Dibeliin Leo”
Selesai dengan pakaian, Leopun membawa Yuna dan ibunya ke salon untuk dirias. Setelah itu barulah mereka berangkat ke hotel tempat acara berlangsung. Mereka agak terlambat seperempat jam karena mutar ke salon dulu.
Mereka turun dari mobil dan memukau orang-orang yang sedang lewat dan yang sedang berada di lounge. Yuna membonceng tangan ibunya sementara Leo mengekori di belakang. Merekapun memasuki lift dan Yuna baru sadar kalau anting Leo belum dilepas. Seharusnya mereka keluar di lantai 10, tapi Yuna memutuskan untuk turun di lantai 9 bersama dengan Leo dan menyuruh ibunya untuk duluan saja. Yuna buru-buru melepaskan anting Leo yang merupakan sebagian dari diri Leo. Sebenarnya Leo tidak suka melepas antingnya, tapi daripada tidak diperbolehkan masuk dan membuat Yuna malu, ya akhirnya dia pasrah telinganya dilucuti Yuna. Setelah selesai, mereka kembali memasuki lift.
Pintu lift terbuka. Leo dan Yuna melangkahkan kaki keluar disambut dengan banyak pasang mata yang terpukau pada kecantikan dan ketampanan Yuna dan Leo. Mereka terus berjalan tanpa memperdulikan sekitar dan langsung memasuki ballroom. Berpuluh pasang mata tampak terpukau. Eh, bukan berpuluh lagi, tapi beratus pasang mata.
Yuna mencari-cari temannya lalu melihat Bima duduk di baris kanan bersama anak-anak lain, iapun menyusul dengan berpegangan tangan dengan Leo. Leo tampak risih dengan tatapan anak-anak lain.
“Can’t I sit with your mom?” tanya Leo dengan ekspresi agak jengkel karena tatapan-tatapan yang terarah padanya
“Why? Don’t tell me… hahaha” Yuna mengetahui kerisihan yang leo rasa.
Berbagai pertunjukan dipersembahkan untuk menghibur tamu. Makananpun mulai dikeluarkan beserta minumannya. Waktu berlalu begitu cepatnya sampai tak terasa kalau acaraya akan segera berakhir. Saking sibuk dengan teman-teman dan pertunjukan-pertunjukan, Yuna tidak tahu kalau Leo menghilang dari sampingnya. Tapi dia hanya kaget sebentar saja karena mau khawatir juga untuk apa, toh si Leo juga sudah besar. Tak lama, HP Yunapun berdering karena menerima SMS.
‘I’m waiting at the pool’
Yunapun langsung berdiri dan clingak-clinguk bingung setelah membaca pesan dari Leo.
“Mau kemana, Yun?” tanya Anisa
“Kolam renangnya dimana?” tanya Yuna balik
“Ya di bawah, lah” jawab Anisa
“Dimananya?”
“Sini, sini!” Anisapun menunjukkan kolam renangnya melalui kaca ballroom yang menghadap ke kolam renang hotel yang terlihat kosong tak berpengunjung. Yuna bergegas pergi ke bawah. Dengan agak berlari dia mencari jalan ke kolam renang dan mendapati Leo sedang melambaikan tangan. Yunapun berjalan mendekatinya.
“What’s wrong?” tanya Yuna
“Mmm… you prefer chocolate or flowers?” tanya Leo menaikkan alis kirinya dengan wajah senang
“Chocolate” jawab Yuna bingung
“Shit! I only brought flowers” lalu muncullah pegawai-pegawai hotel dengan membawa bouquet-bouquet bunga yang indah. Yuna tertawa kecil agak terkejut.
“What is this?” tanya Yuna menundukkan wajah dan menahan tawa
“Flowers for you. I forgot to ask what kind of flower you like. So I bought them all. Hahaha” jelas Leo
“Hahaha… I’m so speechless right now. Is this some kind of TV program? Hahaha”
“No. It’s not”
Anisa yang masih berada di dekat kaca menganga kagum melihat event di kolam renang dimana ada Yuna dan Leo. Iapun memanggil anak-anak kelasnya dan membuat anak-anak kelas lain penasaran akan apa yang gerombolan kelas Yuna lakukan. Dari atas memang tidak terlihat wajah orang-orang yang ada di bawah, sehingga yang tahu itu Yuna dan Leo hanyalah Anisa.

“You know that you’re beautiful, and I’m handshome” kata Leo dan Yunapun tertawa keras bersama para pegawai hotel “Oh! I forgot something” Leo lalu berlari pergi dan kembali dengan bouquet bunga yang sangat besar sampai menutupi wajahnya. Para pegawaipun mulai meletakkan bouquet-bouquet bunga di lantai dan pergi lalu kembali membawa balon-balon dan kincir-kinciran.
“Will you marry me?” Leo menurunkan bouquet bunganya agar wajahnya terlihat oleh Yuna
“Ahahahahaha” Yunapun mulai tertawa sampai mengeluarkan air mata
“Why are you laughing?! I mean it!” Leo serius. Yunapun mengambil bouquet bunga dari tangan Leo lalu memeluknya.
“Hahahaha… I will” jawab Yuna masih dengan tawanya
“Hahahaha” Leopun ikut tertawa bahagia begitu juga para pegawai hotel yang kemudian melepas balon ke udara “Thank you for helping me that day”
“Yeah”
“Thank you for being locked up inside my room”
“Yeah”
“Thank you for being my mother and taking care of me”
“Yeah”
“Thank you for being mine”
“Yeah”
“Thank you for everything”
“Yeah”
“Don’t you have anything to say?” tanya Leo jengkel karena Yuna hanya mengatakan ‘yeah’ saja
“I like you with your piercing” ujar Yuna memeluk Leo erat
“Then put them on” Leo berlutut dan Yunapun mengeluarkan anting Leo dari saku blazernya dan memasangkannya pada telinga Leo.
Meskipun tidak ada cincin yang melingkar di jari Yuna sebagai tanda lamaran, namun anting di telinga Leo menjadi saksinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s