Potongan Cerita Blossom

Ini potongan yang masih RAW alias belum diedit. Silahkan dicek atau dibaca. Komenan sangat diterima untuk masukan y^o^y

“Permisi! Permisi!” kata Nana membuat jalan untuk Daniel lalui.
Daniel menurunkan Fan di bangku halte sambil menampari wajah Fan pelan2. Nana memanik lalu mengeluarkan minyak kayu putih yang selalu ia bawa dalam tasnya.
“Dingin kali kakinya” ujar Nana panik sambil menggosok2 telapak kaki Fan dengan minyak kayu putih.

Daniel tidak tahu mau membawa Fan kemana karena dia tidak tahu daerah ini. Kalau dia tahu ada klinik terdekat atau kosan Fan, mungkin dia sudah nekat menerjang hujan deras untuk pergi kesana.
“Sini minyaknya!” pinta Daniel. Daniel menggosok sekitar leher Fan dengan minyak kayu putih. “Klinik dimana?” tanya Daniel
“Di seberang. Tapi aku nggak ada payung” lalu Nanapun melihat seorang siswi SMP yang sedang berpayungan melintas di depan halte “Dek! Dek!” panggil Nana berteriak. Siswi SMP itu menoleh namun lanjut berjalan “WOY! Dek!” teriak Nana berlari mengejar.
“Aku, kak?” tanya si anak SMP bingung
“Iya! Elu!!” Nana menunjuk2 lalu berlindung  di bawah payung siswi itu
“Pinjem payungnya. Temen gue pingsan” Nana memohon sambil menunjuk Fan yang tergeletak di bangku halte
“Hah!! Iya. iya pake aja, kak!” jawab siswi itu kaget ketika melihat Fan terbaring
“Kamu tunggu di halte dulu, ya. Nanti aku kesini lagi”
“Iya, kak”

Nana bergegas memayungi Daniel yang sedang menggendong Fan di depan tanpa memperdulikan dirinya yg kehujanan.
“Lewat mana, nih?” tanya Daniel
“Sini! Sini!”

***

“Permisi! Dokternya ada?” tanya Daniel tegas
“Ada! Ada!” jawab perawat yang duduk di bagian resepsionis ligat. “Dok! Dok!” panggil si perawat
“Apa, sih? Eh… kenapa itu? Sini! Sini!

Daniel menurunkan Fan di kasur pasien dengan wajah cemas.
“Aku ke halte dulu. Mulangin payung” ijin Nana
“Iya” Daniel menjawab tanpa menoleh ke Nana.

Dokterpun mulai memeriksa Fan. Memeriksa matanya, detak jantungnya, lalu perutnya. Dokter itu menepuk perut Fan beberapa kali dan membuat Daniel tegang meremas2 tngannya.
“Masuk angin, ini. Kayaknya dia belum makan. Perutnya kembung” jelas Dokter
“Terus?” tanya Daniel dgn wajah khawatir
“Apanya yang diterusin? Gantiin bajunya, kasih makan sama minuman hangat. Air jahe kalau bisa” ujar Dokter
“Obatnya?”
“Nggak usah minum obat. Kasih aja apa yang aku bilang tadi” jawab Dokter.berjalan keluar. “Sus, ada baju nganggur?”
“Ada, Dok. Sebentar”
“Biarin si suster aja yang ngurusin. Kamu keuar aja”
“Nggak apa2, nih, dia?”Daniel mencoba memastikan
“Iyaaaa… Kamu juga basah kuyup, tuh. Nanti masuk angin kalau nggak ganti baju”

***

Nanapun kembali tak lama setelah Fan sadarkan diri. Nana datang dengan kondisi yang sangat luar biasa basah.  Dia memasuki klinik dan membuat lantai keramik klinik menjadi becek sehingga membuatnya jalan menjinjit karena takut kena marah kalau ketahuan.
“Lah… yang ini basah2an juga. Nanti masuk angin juga, loh” ujar si dokter yang keluar dari ruang periksanya
“Oh. Iya, dok. Maaf”
“Kamu temannya Fan, ya?” tanya si dokter
“Iya. Kok dokter tau?”
“Nanya aja. Barangkali bener” jawab si dokter simpel
“Maksudku, kok pak dokter.tau namanya Fan?” tanya Nana
“Oh… ya… tau… tau dari dianya” jawab si dokter.grogi
“Oh… gitu, ya” gumam Nana agak curiga lalu si dokterpum pergi dan Nana hanya memandanginya saja.

Kreeek

“Oh… kak!” sapa fan saat Nana masuk
“Kenapa dirimu?” tanya Nana cemas
“Dia masuk angin. Terus belum.sarapan”sahut Daniel
“Iya” Fan menyetujui
“Jangan iya2 aja!” marah Daniel
“Hujannya udah agak reda. Pulang sekarang, yuk!” ajak Nana
“Iya. Lagian nanti dirimu sama daniel masuk angin pulak” kata Fan
“Ada payung?” tanya Daniel
“Nggak ada. Kosannya udah deket, kok” jawab Nana

Mereka bertigapun keluar dari ruangan dengan Daniel membawa tas plastik berisikan pakaian Fan yang bsah kuyup. Pak dokternyapun sangat baik hati karena tidak memungut biaya apapun dan malah memberi roti makan siangnya untuk Fan. Diapun menyuruh si suster untuk menyeduhkan minuman susu jahe. Pakaianpun ia berikan secara percuma tapi Fan menolak dan berjanji akan mengembalikannya setelah dicuci bersih. Lagipula setiap mau pulang ke kosanpun selalu melewati klinik ini. Tak banyak yang diobrolkan si dokter.dengan Fan ataupun Daniel. Hanya sedikit anjuran untuk menjaga kesehatan dan diri mereka sendiri. Dokternya sangat ramah. Berbicara seolah2 mereka sudah dekat sekali meskipun baru pertama bertemu.

sebelum pulang, Fan mencari si dokter untuk sekali lagi mengucaplan terima kasih.
“Mbak, pak dokternya dimana, ya?” tanya fan yang dipapah Nana
“Oh. Di ruang obat, mbak. kenapa?”
“Saya boleh kesana, tak? Oh, iya. Makasih, ya, mbak. Saya ngerepotin”
“Boleh2. Sama2” suster itu tersenyum lalu kembali duduk. “Heran, deh. Hari ini kok semua pasien yg 2 org pada digratisin, ya?” gumam si suster. Fan berjalan ke ruang obat2an dgn bantuan Nana. Sesampainya dia melihat si dokter duduk dgn kepala disandarkan di meja seperti sedang tidur.
“Tidur dia” kata Nana
“Alah… padahal mau…” kata Fan. tiba2 si dokter membalikkan wajahnya ke arah pintu kaca dan Fan melihat mata si dokter masih terbuka “Dia melek” Si dokter menegakkan posisi dudulnya dan memasang ekspresi bertanya2 tentang apa yg diinginkan Fan dan Nana. Nana membuka pintu
“Permisi, pak” kata Nana
“Kenapa?” tanya si dokter
“Mau bilang terima kasih, pak” kata Fan tersenyum
“Oh… sama2” pak dokterpun membalas senyuman Fan
“Oh, iya. Saya Fan” Fan memperkenalkan diri “Nama bapak siapa?”
“Haha… sya Ryan. Jangan panggil bapak, dong. Umur kita beda tipis doang” si dokter tertawa. Nana agak bingung knp si dokter bisa berkata bahwa umurnya dan Fan beda tipis.
“Oh. Gitu, ya. Ehehe…. Terima kasih, kak Ryan” Fan melambaikan tangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s