Fate’s Play – Part 2

“Sudah jam berapa ini??!!”

Seorang pria dengan kemeja putih dan ditutupi jas hitam yang sedang memegang buku tebal dengan cover yang terbuat dari kulit kelihatan panik dan berkali-kali melihat jarum pendek pada arlojinya yang telah bergerak hampir seperempat lingkaran. Dia juga terlihat berkali-kali menghubungi seseorang, namun tampaknya tak ada jawaban. Berkali-kali pula ia menggertakkan giginya dan mondar-mandir di salah satu sudut bandara.

“Haduh… kemana dia ini??? Bagaimana ini??? Aduh…”

Paniknya semakin menjadi-jadi saat jarum pendek jam arlojinya sudah seperempat lingkaran. Keringatpun mulai mengucur deras dan agak membasahi kerah kemeja putihnya. Diapun menjadi pusat perhatian karena tingkahnya yang membuat orang menganggapnya gila.

Berkali-kali dia duduk dan berdiri lagi. Berkali-kali dia menelfon, berkali-kali dia bergumam sendiri, dan berkali-kali orang hilir berganti duduk di sampingnya. Dan saat kepanikannya memuncak, seekor burung tiba-tiba bertengger di bangku panjang di teras bandara yang ia duduki.

Entah apa yang difikirkan pria ini, dia tiba-tiba memulai perbincangan dengan seekor burung yang ada di sebelahnya seperti sedang berbicara dengan manusia.

“Kau tahu, aku ini orang susah. Berkali-kali aku melamar pekerjaan, dan sudah berpuluh-puluh lembar uang aku buang untuk melamar pekerjaan. Tapi kenapa?! kenapa saat aku baru merasakan kebahagiaan mendapatkan pekerjaan, ada saja masalah yang menimpaku. Apa aku tidak berhak bahagia, ha?!” curhatnya dengan emosi serta mata berkaca-kaca dan matanya bagaikan tak dapat menahan air mata yang akan keluar.

Chirp chirp chirp

Burung kecil itu seakan-akan menanggapi curhatan pria di sebelahnya dan melompat-lompat mendekati pria itu.

“Kau mengerti apa yang aku katakan?? Wah, ternyata Tuhan masih menyayangiku dengan mengirimkanmu untukku” ujar pria itu bahagia sambil mengusap air mata yang sedikit keluar dengan jari telunjuknya.

Drrrt drrrrrrtt

Getaran handphone pria tersebut membuatnya berhenti bercakap-cakap dengan burung kecil di sebelahnya.

Betapa terkejutnya dia saat melihat nama yang terpampang di layar handphonenya.

Head Butler Kai

Seketika pria itu teringat akan apa yang harus dia lakukan. Kembali ia memandang jam tangannya, dan ternyata jarum panjangnya sudah menunjuk ke angka 9.

Diapun berlari tanpa tau tujuan mau kemana. Fikirannya sudah semakin teraduk-aduk, matanya bergerak kesegala arah, nafasnya semakin berantakan, detak jantungnya berdegub bak genderang perang yang ditabuh oleh puluhan orang, tubuhnyapun semakin bergerak tak terkontrol.

Agak jauh dia berlari dari tempatnya tadi, dan tiba-tiba otaknya dapat mengambil alih tubuhnya kembali. Dia teringat bahwa handphonenya tertinggal di bangku tadi. Diapun berlari kembali ke bangku tempatnya duduk tadi. Betapa tersentak dan membulat besar matanya ketika dia teringat bahwa dia telah mengabaikan panggilan dari Head Butler Kai.

“AA… BAGAIMANA BISA??!!” teriaknya sambil mengusap kasar wajahnya yang bentuknya sudah tidak karuan itu.

“Tamatlah riwayatku….”

Lari pria itu terhenti ketika melihat orang-orang yang tampak terpukau oleh sesuatu. Iapun membaur dengan orang-orang dan mencari tahu apa yang mereka lihat. Belum sempat ia bertanya, tampaklah wanita tinggi semampai dengan gaun indah yang tertiup angin sedang memandang keatas dan menengadahkan tangannya.

Ckreek ckreek ckreek

Beberapa kali terdengar suara jepretan kamera yang lensanya menangkap suatu keindahan yang jarang terjadi.

Dinginnya cuaca tertutupi oleh kehangatan senyuman sang wanita dengan kulit putih seputih susu dan pipi serta bibir yang merona seperti bunga sakura. Setiap helai rambutnya yang terelus angin dan terkena bias matahari bagaikan benang emas yang selembut sutra.

Tampak juga sesosok pria yang tinggi, penuh karisma dan tampan. Dari sisi yang berlawanan, orang-orang dapat melihat silhouette mereka yang juga tidak kalah indah dan menawan. Mereka berdua seperti bukan dari dunia ini. Bagaimana bisa sepasang manusia sesempurna mereka ada di dunia yang penuh dengan kekurangan ini?

Pria yang berada di belakang wanita itu tampak melangkahkan kaki mendekati sang wanita. Kepala pria itu terlihat mendekati kepala sang wanita. Begitu dekat dan rapat sehingga orang-orang di sekitar pria itu tidak tahu apa yang mereka berdua lakukan. Entah mengapa jantung para pengunjung yang menyaksikannya berdegub tak tentu arah dan memompa darah mereka kencang. Bagaikan menyaksikan klimaks romance drama, mereka deg-degan tak menentu saat melihat pria dan wanita itu saling berdekatan. Aura seorang Raja dan Ratu yang ada pada mereka membuat semua orang tak henti-henti melontarkan pujian-pujian dan suara kamera tak henti-hentinya terdengar.

“Eeeeeeh??? Neo-sama?!” si pria ini tersadar bahwa laki-laki yang bersama wanita itu adalah orang yang dicari-carinya.

“NEO-SAMA!!” teriaknya sambil berlari di kerumunan menuju ke tempat pria dan wanita itu. Teriakannya lumayan memecahkan konsentrasi beberapa pengunjung yang sedang melihat dan mengambil gambar pria dan wanita yang menjadi pusat perhatian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s