Fate’s Play – Part 1

Seorang wanita muda yang menggunakan dress karamel terlihat sedang menunggu seseorang di dalam bandara. Langkah kakinya diarahkannya ke kursi yang disediakan pihak Bandara bagi calon penumpang untuk duduk menunggu waktu Check-In. Wanita itu berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah orang yang Ia tunggu ada di kerumunan pengunjung bandara yang lalu lalang. Namun mencari sosok orang yang ditunggunya itu tidak mudah karena bandara ini adalah bandara tersibuk dan satu-satunya bandara yang ada di negara ini juga. Perhatiannya bukannya terfokus ke orang yang ditunggunya, tapi dia malah memperhatikan para pengunjung tanpa disadarinya.
Orang-orang tampak sibuk sendiri dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang terlihat sedang berbincang-bincang serius dengan sesama, ada yang terlihat sibuk dengan ponselnya, ada juga yang terlihat tergesa-gesa dan menatap papan jadwal keberangkatan pesawat dengan raut wajah yang tegang.
Sesekali wanita muda itu terlihat sedang memperhatikan jam tangannya sambil merapikan rambut panjangnya. Tiga puluh menit setelah kesampaiannya di Bandara telah berlalu, tapi tampaknya orang yang Ia tunggu belum kunjung tiba. Diapun beranjak dari tempatnya duduk dan menggeret kopernya kearah pintu keluar Bandara untuk memastikan apakah orang yang ditunggunya telah sampai namun tidak mengetahui keberadaannya karena menunggunya di luar.
Saat beberapa langkah wanita itu berjalan, Ia menyadari bahwa orang-orang sedang memandanginya, memandanginya dengan pandangan yang membuatnya agak kurang nyaman. Diapun berjalan dengan agak menunduk untuk mengurangi rasa ketidaknyamanannya dan agar orang-orang berhenti memandanginya. Namun mau bagaimana lagi, semua orang mengenalnya dan keluarganya, bahkan mereka sangat menghormati keluarganya. Ternyata wanita itu adalah anggota kerajaan yang pernah memimpin negara itu. Walaupun sudah bertahun-tahun lamanya Ia meninggalkan negaranya sendiri, tampaknya rakyatnya masih mengenalinya meskipun ada beberapa yang kurang mengenalinya juga.
Suasana Bandara menjadi agak ribut dengan percakapan-percakapan orang-orang satu sama lain.
“Wah… dia sudah kembali”

“Apa itu benar-benar dia? Dia tambah cantik dan menawan”

“Dia siapa ya? Kok sepertinya aku pernah melihatnya ya?”

“Kasihan sekali dia ya”

Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang keluar dari mulut pengunjung Bandara yang pandangannya terkunci pada sosok wanita muda itu.
Tak ingin menjadi pusat perhatian, Iapun mempercepat langkahnya hingga langkah tersebut terhenti karena kalimat yang terlontar dari salah satu orang asing yang berkunjung ke negaranya tersebut.
“Is she the Princess? She was a caged Rose, right? She’s beautiful but dangerous.”
“No, she’s not the rose. It’s not her fault, it was a murder”
“But that’s the story that I heard”
“Ssshh… she can hear your voice” laki-laki itu kemudian menarik temannya menjauh.

Suasana yang sudah ramai menjadi lebih ramai lagi saat wanita muda itu membungkuk memberi hormat pada seluruh pengunjung Bandara dan tersenyum dengan manisnya. Bahkan tak terlukis sedikitpun garis amarah pada ekspresi wajahnya meskipun dia mengerti apa yang barusan dikatakan oleh pengunjung tadi tentang dirinya. Pengunjungpun membalasnya dengan senyuman dan membungkuk memberi hormat dan ucapan selamat datang kembali padanya. Pengunjung bandara yang tidak ingat dan bahkan tidak mengenalnyapun memberi hormat dan ucapan selamat datang kembali dan hal tersebut membuat wanita muda itu mengembangkah senyum memukaunya.

“Yuna, maaf aku terlambat”
Terlihat seorang pria dengan pakaian yang rapi namun sedikit terlihat ngos-ngosan berlari kearahnya.
“Maaf, tadi….” Kalimat pria itu terhenti ketika Ia merasakan tatapan mata yang terarah pada wanita itu tiba-tiba teralih kepadanya. Iapun melihat ke sekitar dengan pandangan bingung dan keningnya sedikit berkerut. Terlihat sekali bahwa dia sangat merasa kebingungan dan tidak nyaman hingga fokusnya ke wanita itu pudar.
“Tidak apa-apa, aku baru saja tiba kok. Neo, bagaimana keadaanmu?”  wanita itu mencoba untuk mengembalikan pandangan Neo kearahnya.
“Ha? Ah, aku baik-baik saja” walaupun masih agak kebingungan, Neopun kembali sadar.
Neo mencoba untuk tidak menghiraukan pandangan-pandangan yang tertuju pada mereka berdua. Dia langsung membantu Yuna membawa kopernya dan mereka beranjak keluar dari bandara bagaikan tidak terjadi apa-apa meskipun keributan masih berlangsung karena mereka berdua.

Para pengunjung yang ada di dalam bandara seakan tak percaya bahwa mereka dapat melihat wajah Puteri dan Pangeran negaranya dengan gamblang dan secara langsung. Puteri yang lama meninggalkan negaranya selama bertahun-tahun sejak dia masih kecil dan kembali saat telah beranjak dewasa. Mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang kepulangan dan kepergian Sang Puteri. Suasana bandara yang sangat sibukpun menjadi semakin ramai seiring langkah Sang Puteri dan Pangeran menuju pintu keluar bandara.

Struktur tubuh dan beberapa bagian Sang Puteri bisa saja dilupakan oleh rakyatnya, namun kharisma dan keanggunannya membuatnya mudah dikenali, apalagi dia dengan gamblangnya menampakkan wajahnya yang tidak terlalu berubah sejak 5 tahun yang lalu.
Neo, what’s wrong?” Sadar bahwa Neo memandanginya sejak tadi Yuna-pun menghentikan langkahnya sembari bertanya dengan senyum manisnya.
You have changed” Neo melepaskan genggaman tangannya dari koper Yuna
“Berubah apanya? Bagian apa yang berubah? Aku tidak merasa berubah.” Jawab Yuna bingung
“Lima tahun telah berlalu. Terakhir kali aku melihatmu saat umurmu masih 12 tahun. Ah, tidak, bahkan dirimu belum genap 12 tahun waktu itu.”
“Jadi… kau masih mengingatnya, ya?” senyum manis Yuna-pun terkembang karena dia senang Neo masih mengingat masa kecilnya.
“Karena…..” kalimat Neo terhenti saat Ia melirik Yuna
“Karena?” Yuna memutar tubuhnya kearah Neo
“Karena.. kau….. adalah tunanganku” Jawab Neo malu-malu dan dengan nada yang semakin rendah. Diapun mulai berjalan meninggalkan Yuna karena rasa malunya mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin dia singgung dihadapan Yuna.
“Neo, apa kau mencatat semua kejadian-kejadian itu di buku diary?” tanya Yuna menggoda dan agak sedikit tertawa kecil sambil mengejar langkah Neo yang mendahuluinya dengan cepat. Langkah Neo-pun lagi-lagi terhenti dan dia agak sedikit marah karena Yuna menggodanya dengan pertanyaan yang membuatnya merasa malu.
“Tidak mungkin aku memiliki buku diary! Aku bahkan tak terfikirkan untuk meilikinya dan tak akan mau menggunakan buku diary” ujarnya sebal dan kemudian dia menarik koper Yuna serta melangkahkan kakinya cepat kearah pintu keluar.

Angin musim gugurpun menyambar ketika pintu bandara terbuka otomatis. Rambut Yuna yang panjang nan indah berkibar dengan anggunnya. Cahaya bias matahari membuat rambut coklatnya terlihat sangat indah dan warnanya menjadi sangat lembut. Dress tiga per empatnya agak tertiup angin dan bagian bawahnya berkibar dengan indahnya juga. Keindahan terpancar dari segala sudut dan bagian tubuhnya. Tanah kelahirannya seakan menyambut kedatangannya kembali dengan suka cita. Daun-daun yang berwarna-warni berguguran bagaikan pecahan pelangi yang menghujaninya.

Yuna menengadahkan tangannya kedepan dan daun berwarna merah keorenan jatuh tepat di telapak tangannya yang putih kemereahmudaan bak buah peach. Daun maple yang bergururan menyipu pipi lembutnya yang merah merona. Neo hanya bisa terdiam terpaku menyaksikan kejadian yang hanya beberapa saat itu. Tatapannya bak tatapan anak kecil yang sedang tercengang dan tidak memiliki kosa kata untuk mengungkapkan apa yang ia lihat dengan kata-kata saking indahnya pemandangan yang Ia lihat. Otaknya menahan kedipan matanya karena tak ingin kelewatan satu detikpun kejadian yang sedang disaksikannya itu.

Yuna kecil memang menawan, tapi Yuna yang sekarang lebih dari sekedar menawan. Cukup menawan untuk membuat Neo terdiam dan melupakan sekitarnya. Cukup menawan untuk seorang Pangeran yang menutup dirinya dari keindahan lain kecuali yang ada di depannya ini.
It looks just like snowflake. Don’t you think it’s beautiful?” Yuna mendongakkan wajahnya dan memejamkan mata, senyumpun terlukis tanpa ia sadari. Kepolosan dan keindahan wajahnya tak dapat dibandingkan dengan siapapun, bahkan dengan malaikat sekalipun. Bahkan senyumnya dapat membuat malaikat yang lewat berhenti mendadak untuk menyaksikannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s